Monday, 26 October 2015

Dualisme Jepang Terhadap Indonesia

Oleh: Kenang Kelana

PERISTIWA 1965; 
Persepsi dan Sikap Jepang
Aiko Kurasawa
2015, Penerbit Kompas
xxi+202
Aiko Kurasawa dalam buku ini memberikan kita paparan mengenai persepsi dan sikap Jepang terhadap Indonesia sebelum dan sesudah pristiwa politik 1965, sama seperti yang tertulis di dalam judul buku ini. Buku ini beragkat dari sumber wawancara terhadap orang-orang yang hidup (dan bersinggungan) pada zaman itu.

Perlu menjadi catatan bahwa di tahun 1978, ratusan orang yang dianggap komunis dan terlibat dalam pristiwa 1965 baru dibebaskan dari Pulau Buru. Secara kebetulan penelitian Aiko yang terfokus pada perubahan sosial masyarakat Jawa pada masa pendudukan Jepang mengantarkannya kepada eks-tapol 65 itu, yang pada saat pendudukan Jepang juga memiliki peran yang sangat siknifikan.

Aiko sendiri datang ke Indonesia pada tahun 1972 dalam rangka melakukan study mengenai perubahan sosial di Jawa dan menghasilkan disertasi yang sudah dibukukan serta di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Mobilisasi dan kontrol ; Indonesia masa pendudukan Jepang”. Di akuinya sempat ada kendala pada saat kedatangannya ke Indonesia, saat berada di Bandara Kemayoran beberapa buku bahan studinya di tahan selama satu minggu untuk dilakukan screaning.

Ia juga sempat akan dipanggil oleh pihak BAKIN guna mencari tau aktifitas politiknya, karena pada tahun 1968 ia termasuk orang yang diberangkatkan ke China sebagai anggota “Student Friendship Group”. Akan tetapi akhirnya lolos berkat bantuan Kedubes Jepang yang kenal dengan pihak  TNI.

Selain itu, sumber dalam penelitian ini juga mengunakan dokumen-dokumen Kementerian Luar Negeri Jepang [MOFA], arsip-arsip dari Amerika, beberapa memoar yang ditulis oleh mantan Perdana Menteri Jepang pada tahun tahun itu, tulisan-tulisan Jurnalistik, dokumen Partai Komunis Jepang dan memoar Dewi Sukarno yang juga mendapat perhatian khusus dalam buku ini.

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Jepang sejatinya baru dimulai setelah 6 tahun Indonesia merdeka tepatnya tahun 1951. Sejak ada pembicaraan di internasioanl tentang biaya ganti rugi setelah Perang Dunia II. Indonesia dalam hal ini Sukarno menilai “pembicaraan ini” akan membantu Indonesia di tengah situasi ekonomi yang menyulitkan pada masa itu.

Negoisasi harga yang harus dibayar cukup panjang, karena antara kedua negara sama-sama bersihkeras mempertahankan argumennya terkait alasan pengajuan harga ganti rugi. Djuanda kartawijaya yang pada saat itu menjabat sebagai menteri luar negeri di utus ke Tokyo untuk memulai negaoisasi harga, dan Indonesia menilai 17,5 miliar dolar AS adalah harga yang pantas untuk biaya ganti rugi dan belum termaksud menghitung korban jiwa yang dihasilkan oleh perang.

Sebaliknya, penolakan keras datang dari parlemen Jepang yang menggap bahwa angka itu terlalu tinggi untuk keadaan Jepang saat itu. Mereka mengunkan pasal perjanjian pampasan perang yang di deklarasikan pada tahun yang sama di San Fransisko bahwa “Jepang juga perlu mempertahankan ekonominya sendiri, sumber daya  jepang saat ini tidak mencukupi untuk membayar  pampasan perang  bagi semua kerusakan dan penderitaan dan pada saat yang sama memenuhi kewajiban yang lain”.

Pada faktanya, baru  di tahun 1957 di Jakarta kedua negara menyepakati angka yang harus dibayar oleh Jepang untuk Indonesia. PM Kishi berkunjung ke Indonesia khusus menemui Soekarno guna membicarakan ini. Melalui perhitungan yang pas kedua negara memiliki angka yang berbeda. Uniknya Sukarno hanya mengajukan angka 177 juta dollar AS sementara dalam hitungan Jepang seharusnya 240 juta dollar AS. Bahkan setelah di ingatkan oleh asissten penerjemah atas kekeliruan Sukarno, PM Kishi hanya menyatakan “ Kita tidak usah mempersoalkan hal-hal sepele”

Babak baru hubungan diplomatik Indonesia Jepang dimulai. Berbarengan dengan deal politik dengan Jepang, Indonesia segera melakukan nasionalisasi aset-aset milik Belanda yang masih beroprasi. Aiko menduga langkah politik Sukarno ini terkait adanya kepastian pembayaran biaya pampasan perang oleh Jepang. Biaya itu digunakan untuk mengoprasikan perusahaan-perusahaan milik Belanda yang akan di nasionalisasi.

Disisi lain, perjanjian antara Sukarno dan Kishi juga membahas mekanisme pembayaran yang salah satunya adalah dengan memberikan bantuan dalam bentuk “jasa”. Ada beberapa perusahaan dan pekerja teknisi dari Jepang yang masuk ke Indonesia sebagai bentuk bantuan. Tak luput Jepang juga membuka kantor perwakilan jurnalistik.

Dana pampasan perang dalam bentuk jasa orang Jepang pada umumnya berbentuk proyek-proyek infrastruktur, gedung-gedung pabrik dll,. Biasanya mereka dipakai sebagai pembuat proposal dengan format yang biasa di pakai dan diterima oleh pemerintahan Jepang. Orang-orang ini rata-rata memiliki hubungan dengan orang-orang dipemerintahan Indonesia sejak masa pendudukan Jepang.

Aiko mencatat bahwa dalam proses merumuskan proyek-proyek, ide awalnya sering secara tidak resmi disarankan oleh perusahaan-perusahaan swasta Jepang kepada departemen terkait di pemerintahan Indonesia. Biasanya lebih banyak diterima karena mereka mengerti proposal-proposal yang sesuai dengan standar pemerintahan Jepang, dan biasanya orang-orang ini adalah agen dari perusahaan swasta jepang yang kemudian mendapat tender dari pihak pemerintah Jepang. Banyak pengusaha-pengusaha Jepang bersaing untuk mendapatkan proyek ini dan orang-orang Jepang berlomba mendekati petinggi-petinggi pemerintahan Indonesia.

Begitu massifnya kerja-kerja ekonomi dan politik dengan Jepang, Indonesia dengan Sukarnonya tetap tidak melupakan sikapnya terkait poros baru dunia. Di tengah gempuran politik Kapitalisme dan Komunisme Indonesia masih berpegang teguh kepada politik non-blok. Pada tahun 1955 Jepang datang pada perhelatan Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan oleh Sukarno dengan semangat Anti Kolonialisme dan Imperialisme.

Jepang masih menunjukan dirinya sebagai negara bangsa Asia yang mendukung nasionalisme guna memerangi bangsa-bangsa imperial. Bahkan di beberapa kesempatan Jepang seolah tidak peduli kalau-kalau sikapnya yang mendukung Sukarno akan berdampak kepada negara-negara barat. Tanpa memedulikan kepeningan bangsa barat yang secara tidak langsung di titipkan kepda Jepang terkait pembendungan komunisme di Asia Tenggara khususnya Indonesia, Jepang tetap pada pendiriannya yang juga punya maksud kepentingan ekonomi politiknya.

Bagi negara-negara Barat terutama Amerika, Jepang dipakai sebagai kepanjangan tangan mereka di Indonesia atau menurut Sasaki tokok Partai Komunis Jepang ; Jepang adalah brokernya Amerika. Karena praktis sampai pada saat itu hanya Jepang yang bisa masuk sedekat itu dengan Indonesia khusunya Sukarno. Sekalipun tidak menutup mata, kita perlu menjelaskan bahwa Amerika melalui agen-agen PSI dan Angkatan Darat cukup intens  menjalin komunikasi.

Jepang dan Pristiwa G30S
Menjelang october 1965, secara politik Indonesia mengambil sikap yang menggemparkan dunia. Januari 1965 Sukarno menyatakan Indonesia keluar dari keanggotaan PBB yang dikarenakan terpilihnya Malasiya sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Baik Jepang maupun bangsa Baratpun bingung menghadapi ini.

Benar saja Sukarno mulai secara terbuka membangun koneksi dengan Tiongkok yang baru saja berhasil untuk pertama kalinya membuat percobaan sejata Nuklir pada tahun 1964. Sadar akan situasi seperti ini, Amerika melalui PBB meminta Jepang untuk lebih aktif mempengaruhi arah kebijakan politik Sukarno. PM Sato yang secara karakteristik sangat tidak suka dengan Sukarno terlihat enggan menanggapi permintaan AS yang secara umum meminta Jepang menjembatani konflik Indonesia dengan Malasyia. Bahkan PM Sato selalu menghindari kontak langsung dengan Sukarno.

Di internal Jepang sendiri, beberapa politisi serta pejabat negara mulai tidak menaruh simpati dengan Sukarno atas sikap politiknya yang terlalu progresif. Hanya beberapa yang masih menaruh simpati kedapa Sukarno, salah satunya adalah Kawashima Shojiro, deputi ketua Partai Liberal Demokrasi dan menjabat Menteri Negara urursan Olimpiade Jepang.

Kawashima diutus ke dalam pertemuan peringatan ke 10 KAA Bandung sekaligus membawa agenda penyelesaian konflik antara Indonesia dengan Malasyia dan meminta Sukarno pada bulan Mei untuk berkunjung ke Tokyo bertemu dengan PM Malaisya Rahman untuk penyelesaiian konflik. Sebagai gantinya, Jepang berjanji akan datang dan mendukung pertemuan KAA ke II di Aljazair.

Di saat yang sama PM Tiongkok Zhou En-Lai juga datang mengunjungi Indonesia dalam peringatan 10 tahun KAA dan meminta Sukarno untuk teteap pada garis politik Ganjang Malaisya. Ironisnya Sukarno mengabaikan permintaan Jepang dan memilih mendengarkan masukan dari Zhou En-Lai. Yang menarik dan sangat mengejutkan adalah saat kedua negara itu (Jepang-Tiongkok), Sukarno mempertemukan keduanya yang secara politik keduanya belum membuka hubungan diplomatik pada saat itu.

Dibulan September intensitas politik di Indonesia meninggi, santer kabar tentang isu Dewan Jendral yang akan menggulingkan pemerintahan Sukarno. Pada pagi dini hari tanggal 1 Oktober telah terjadi penculikan disertai pembunuhan terhadap beberapa Jendral Tinggi Angkatan Darat. Sebanyak 7 ditambah satu putri A.H Nasution dilaporkan terbunuh.

Ada banyak versi yang melingkupi aktor dibalik gerakan ini. Akan tetapi di pemerintahan selanjutnya setelah Sukarno kehilangan otoritas, melalui Supersemar di bawah Angkatan Darat, Suharto mengumumkan dalang dibalik pembunuhan beberapa Jendral Tinggi Angkatan Darat ini adalah PKI dan menyatakannya sebagai Partai terlarang.

Namun, ada yang jauh lebih mengerikan dari sekedar pembunuhan 7 Jendral Angkatan darat ini. Yakni, beberapa minggu setelah dikeluarkannya Supersemar, Suharto menyatakan PKI sebagai partai bertanggung jawab penuh atas terbunuhnya Jendral Angkatan Darat ini. Tak disangsikan lagi beberapa bulan kemudian terjadi pembantaian yang mengrikan di sepanjang pulau Jawa. Baik dari ujung barat hingga ke ujung timur pulau ini.

Lalu bagaimana dengan Jepang? apa yang mereka tau tentang Gerakan 1 Oktober ini? Dan bagaimana sikap mereka terhadap pembantaain yang terjadi di sepanjang tahun itu?

Kedutaan Jepang di Indonesia merasa kaget setelah beberapa jam terjadi pembunuhan. Pasalnya Dubes Jepang di Indonesia Saito Shizuo sedang berada di Jawa Tengah menghadiri peresmian pabrik pemintal benang yang di bangun oleh perusahaan swasta Jepang dan akan bertolak kembali menuju Bandung. Kabar tentang pembunuhan itupun sampai di telinga Saito. Segera mereka semua memutuskan kembali lagi menuju Jakarta pada tanggal 2 Oktober.

Sesampainya di Jakarta, segera Saito berkomunikasi dengan Dewi dan terus menerus bertukar informasi dengan pihak kedutaan negara-negara barat. PM Jepang Sato mengirimkan pesan kepada Sukarno yang berisi ungkapan rasa penyesalan atas usaha pembunuhan terhadap dirinya dan bersyukur mendengar kabar dirinya masih selamat. Pesan ini disampaikan oleh Dubes Saito pada tanggal 12 Oktober dan berkesempatan membicarakan perihal insiden itu.

Yang menarik adalah pengakuan Sukarno pada saat berbincang dengan Saito pada kesempatan itu. Ia (Sukarno) menolak tuduhan atas rumor bahwa ada intervensi dari pihak Tiongkok dalam hal ini dan malah memandang curiga kepada pihak Amerika Serikat karena beberapa hari sebelum peristiwa terjadi seluruh staf Kedubes AS telah direncanakan untuk dievakuasi.

Sampai disana Saito mendapat kesan bahwa Sukarno masih bisa di jadikan pegangan sebagai tokoh yang dapat menstabilkan keadaan di Indonesia. Mengingat bahwa sampai sejauh ini belum ada orang yang bisa secara posisioning berdiri sama tegak dengan posisi Sukarno. Jepang pun di nilai oleh AS dengan ungkapan orang yang masih terhipnotis oleh sihir Sukarno sebagai orang yang paling “penting” dan sangat berhati-hati untuk tidak memusuhinya.

Bagi Amerika— yang sedari awal sangat tidak suka terhadap gaya kepemimpinan Sukarno—tinggal menunggu waktu yang pas hingga Angkatan Darat mampu menjadi otoritas politik yang kuat dan bisa mengendalikan arah kebijakan politik Indonesia yang memberikan kesempatan bagi Amerika untuk masuk ke dalamnya.

Sikap Jepang yang masih percaya terhadap kepemimpinan Sukarno pun tak berlangsung lama dari sejak Dubes Saito bertemu. Segera Jepang mencari informasi terkait gerakan-gerakan yang berada di seberang Sukarno. Hatta dinilai memiliki representasi atas kelompok-kelompok yang anti terhadap kepemimpinan Sukarno ditambah dengan informasi seorang Mahasiswa Indonesia di Jepang yang pada saat itu bekerja sebagai wartawan, Alifin Bey.

Saat itulah Jepang mulai mengambil sikap membelakangi Sukarno. Sesuatu yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Ambiguitas ini di latarbelakangi oleh modus ekonomi yang membuat Jepang harus mencari aman atas posisioning negaranya terkait keberlangsungan ekonominya atas di Indonesia setelah Sukarno dan di mata dunia.

Semangat itu tersirat sejak jauh-jauh hari seperti yang di ungkap oleh Menteri Luar Negeri -nya sendiri saat pidato di depan para pengusaha Jepang tahun 1955; pembayaran hutang pampasan perang ini jangan dilihat sebagai sebuah tanggung jawab dan kewajiban. Ini adalah kesempatan kita untuk mengambil keuntungan ekonomi atas pembangunan di Asia tenggara.

Pembantaian Massal
Dalam buku ini, Aiko menyatakan dengan nada heran bahwa masyarakat Jepang tidak banyak yang mengetahui tentang pembantaian massal yang terjadi di Indonesia setelah peristiwa pembunuhan ketujuh Jendral AD. Dibuktikan pada saat pemutaran film The Art of Killing besutan karya sutradara Joshua Oppenhaimer digelar di Jepang pada tahun 2014 lalu. Ada banyak warga Jepang yang menanyakan sendiri kepada Aiko dengan nada keheranan terkait peristiwa mengerikan itu.

Tak banyak memang yang bisa diberitakan kepada publik Jepang saat-saat pembunuhan Jendral itu terjadi. Berita yang muncul pertama di publik Jepang adalah justru dari laporan seorang kameramen berkebangsaan Jepang yang sedang memproduksi Film di Indonesia, tepat pada tanggal 2 Oktober ia pulang ke Jepang dan informasinya di tulis pada hari berikutnya tanggal 3 Oktober.

Selanjutnya surat kabar di Jepang mendapat data terkait situasi di Indonesia melalui kantor cabangnya di Malaisya dan Singapur, mengingat mencekamnya situasi pada saat itu sehingga berdampak kepada fasilitas komunikasi yang sempat terputus/tidak berfungsi.

Kenyataan-kenyataan itu membuat keterlambatan informasi yang masuk kepada publik Jepang. Aiko bahkan mencatat beberapa momen pengiriman berita yang secara “kebetulan” bisa di bawa ke Jepang. Seperti menitipkan kepada mahasiswi Jepang yang sedang study di Indonesia dan akan kembali ke Jepang pada masa itu. Kemudian mengandalkan beberapa memoar pengalaman perjalanan staf-staf Kedubes Jepang di Indonesia.

Informasi yang dapat dikumpulkan media Jepang terkait peristiwa ini baru secara massif di cacat oleh para wartawan Jepang setelah minggu ke dua terlebih sebenarnya di akhir-akhir tahun 1965 saat suhu politik Indonesia. Enggel liputan para redaktur surat kabar di Jepang mengarah kepada pertarungan politik antara Sukarno, PKI dan Angkatan Darat. Sekalipun ada kenyataan bahwa narasi tentang pembantaian yang di alamai oleh manusia Indonesia se-Jawa Bali tercatat meskipun tidak banyak.

Tak banyak reaksi dari masyarakat jepang sendiri terkait pembunuhan massal itu. Yang dalam kaca mata Aiko, masyarakat tak banyak bersikap terkait pembunuhan itu cerminan dari sikap pemerintahan Jepang sendiri terkait ini.

Yang dalam anggapan John Rossa, beberapa penulis (baik produk penelitian-jurnalistik) abai memastikan “nyatanya” pembantaian orang yang terjadi di Indonesia. Jumlahnya tidak main-main, sekalipun belum ada data yang pasti karena setiap instansi memiliki versinya masing-masing.

Dengan pasti sikap Jepang berubah setelah peristiwa ini. Bukannya mengambil langkah yang tepat dan cepat untuk mencegah terjadinya pembunuhan massal,  Kabinet Sato Jepang malah mengirim bantuan ekonomi kepada kelompok reaksioner yang melawan Sukarno dengan dalil penyelamatan rakyat Indonesia dari krisis ekonomi.

Ratna Sari Dewi, istri yang sangat dicintai oleh Sukarno menuturkan bahwa ada bantuan yang diberikan secara massif kepada pemimpin kelompok mahasiswa anti Sukarno sebesar enam juta yen. Dana ini diberikan secara tidak resmi (rahasia) kepada Sofjan Wanadi.

Dan setelah tahun-tahun yang gelap ini, sekian banyak dari kita dapat melihat dengan jelas ekspansi ekonomi Jepang dapat berjalan dengan mulus hingga ke level yang paling kecil. Bagi kita yang hidup di generasi 90an, mungkin sudah tak asing lagi dengan berbagai macam komik serta film manga yang beredar seperti “Doraemon”, “Dragon Ball” dst,. Semua ini berkaitan dengan kejatuhan Sukarno dimana Jepang juga punya andil besar terhadap itu. Tabik

 



@kenangkelana


20 Oktober 2015

Tuesday, 22 September 2015

Orientalisme

Oleh: Iman Zaenatul Haeri, S.Pd*

"Melakukan kajian perkembangan pemikiran tentang Orientalisme tidaklah mudah, Orientalisme masa kini mengajarkan kepada kita banyak hal mengenai ketidakjujuran intelektual dalam menyamarkan dan mengaburkan pembagian-pembagian tersebut (Timur-Barat / Utara-Selatan / Imperialis-Anti-Imperialis / Rasis-Anti-Rasis), yang hasilnya adalah semakin parah dan semakin permanen pengkotak-kotakan yang tidak proposional."


Orientalisme
Menggugat Hegemoni Barat dan
Mendudukan Timur Sebagai Subjek
Edward Said
Pustaka Pelajar, 2010
xxxii + 558 halaman
Pengantar
Situasi politik, ekonomi, kebudayaan Timur Tengah belum stabil hingga kini. Berbagai perang saudara, pembunuhan masal serta aksi-aksi teror terus mewarnai pemerintahan Nasional di kawasan tersebut yang silih berganti dengan pilihan yang dipaksakan; otoriter atau demokratis bahkan sebaliknya tidak kunjung menyelesaikan masalah; perpecahan iya. Apakah kita bisa berharap, manusia yang lahir ditengah konflik multidimensi tersebut bisa membuat sebuah karya intelektual monumental yang mampu menjelaskan—diluar dugaan—situasi dunia global kekinian? Kita ambil contoh paling imajinatif bahwa ditengah-tengah konflik lahirlah seorang anak manusia yang mampu memetakan situasi tersebut secara tajam dan terbuka diluar keterbatasan psikisnya yang meragukan untuk berfikir objektif akan lingkup diluar dirinya. Hal tersebut tidaklah imajinatif sebab Edward W Said lahir di Palestina.
Ia dibesarkan di Mesir dan Palestina, sebagian besar karir akademisnya dibangun di Amerika; perjalanan hidupnya ini mengantarkan Said kedalam paradoks identitas. Ia hidup di lingkungan Palestina yang mayoritas Muslim, meski ia berasal dari keluarga Keristen; ia memilih Agnostik.[1] Ayahnya memaksakan identitas “Edward” padanya meskipun menjadi Said—identitas Arabnya-- tidak pernah ia pilih secara penuh.
Karyanya ini, Orientalisme, merupakan pergulatan intelektualnya yang bahkan menurutnya:

“saya sama sekali tidak pernah menyangka bahwa buku ini dapat menarik banyak perhatian dari berbagai kalangan yang justru belum saya bahas secara tuntas dalam buku ini, khususnya dari masyarakat Timur(jauh) itu sendiri”[2].

Pernyataan ini yang menjawab keresahan beberapa kalangan mengapa Said tidak membahas secara luas para orientalis yang fokus di wilayah “Timur Jauh”. Orientalisme membahas mengenai Barat dan Timur. Yaitu relasi kekuasaan politik, Intelektual, kultural dan Moral diantara keduanya. Orientalisme bisa dimaknai sebagai cara Barat memandang Timur—meski masih banyak makna lain. Secara kasat, Timur dibagi menjadi beberapa penggalan, yang pertama Timur Tengah yang diasosiasikan dalam wacana Islam dan bangsa Arab, yang kedua adalah Timur Jauh; India, China, serta beberapa wilayah Asia lainnya—seperti telah disebutkan Said tidak terlalu mendalami untuk relasi wilayah Timur tersebut. Oleh sebab itu, maka wajar bila Said tidak pernah menyinggung Suma Oriental Tome Pires yang memiliki ekses Orientalis yang paling ketara dan vulgar.
Orientalisme menjadi penting bukan karena wacana ini hanya sekedar relasi dua peradaban besar, tetapi wacana ini memiliki rentan waktu yang cukup panjang dengan upaya-upaya tidak henti dari sekian banyak intelektuaL Barat yang sengaja maupun tidak mempertahankan tradisi orientalisme dalam setiap kajiannya. Lalu apa itu Orientalisme?
Secara gamblang, tidak adil kiranya menjelaskan Orientalisme hanya sebatas eksplanasi formal. Dimana karakteristiknya disebutkan dalam poin-poin yang tegas, definisi yang sakral serta ruang lingkup yang tidak berubah; Said jelas tidak mengarahkannya kesana. Said mengerti betul problematis upayanya untuk membedah Orientalisme secara luas dan mendalam sehingga ia secara jujur menjelaskan perbedaan pengetahuan murni dan pengetahuan politis,  masalah metodologis yang ia temui serta sisi-sisi psikologis atau analisa diri sejak Bab pertama buku ini.
Problematika Pengetahuan Murni dan Pengetahuan Politis yang menjadi kontradiksi dalam Orientalisme sebetulnya sudah dimulai ketika Barat memproklamirkan keberadaan pengetahuan murni yang bisa didapatkan dengan kajian ilmiah. Tetapi Said sudah menyadari secara historis, bahwa kelahiran Orientalisme merupakan kenyataan politik dan Budaya, maka ia tidak berada di ruang hampa[3]. Oleh sebab itu, objektivitas Barat memandang timur yang terdapat dalam Orientalisme sangat-sangat dipertanyakan. Permasalahannya, rentan waktu yang sekian panjang tersebut, cara pandang yang lahir dari keserampangan Barat memberi label siapapun intelektualnya; mengajar, menulis dan melakukan penelitian tentang dunia timur—entah ia seorang sejarawan, antropolog, sosiolog ataupun filolog—mereka selalu disebut orientalis. Orang-orang yang dianggap ahli mengenai dunia Timur, yang dalam buku ini dipertanyakan keahliannya.[4]Hal ini sekaligus menggugurkan bahwa Orientalisme merupakan pengetahuan Murni.
Diakui ataupun tidak, keberadaan Otoman Turki sebagai lambang kekuasaan Islam sejak abad ke 15 (silahkan ralat) hingga kemundurannya pada abad ke 19 telah menjadi momok menakutkan bagi Barat (Eropa). Saat itu, Islam dipandang sebagai puncak peradaban Dunia secara Politik, ekonomi, intelektual, teknologi, dan semua sub keilmuan mencakup astronomi hingga kedokteran. Atau dalam bahasa sinis, keunggulan dunia Arab tersebut ditafsirkan sebagai keunggulan musuh Kristus; sebab kedatangan Islam membatalkan ketuhanan Yesus. Fenomena ini kemudian melahirkan peristiwa-peristiwa bersejarah seperti Perang Salib. Sejak itu, Timur diasosiasikan sebagai wilayah eksotis tidak tersentuh—sebagai ketidakmampuan barat mencapai peradaban Islam, sebuah peradaban besar yang misterius, keunggulan-keunggulan yang belum dapat difahami Barat yang terkemuka melalui sastra-sastranya, dalam hal ini Said bahkan melihat benih Orientalisme dalam karya Williams Sakspeare.
Sayang, minimnya pengetahuan Barat tentang Timur menjadikan munculnya prinsip-prinsip tersebut tidak hilang meski dalam beberapa dekade lanjutan, Barat sudah memiliki data literatur timur yang begitu melimpah melalui perkembangan Imperialisme dan Kolonialisme. Orientalisme adalah semacam asumsi budaya Barat melihat budaya Timur. Ketika memasuki Era Kolonialisme, paradigma Orientalisme tidaklah berubah. Bila kemudian Barat, setelah berhasil menaklukan wilayah Timur, persis ketika Napoleon secara bersemangat mengeksplorasi sejarah-arkeologi di Mesir setelah menemukan Piramid—keterkejutan bahwa ada peradaban besar yang sudah lama—tidak membuat prinsip Orientalisme hilang.

Prinsip Orientalisme
Lalu apa yang dimaksud prinsip-prinsip Orientalisme? Pengantar dari penerjemah bahasa Indonesia buku ini, Achmad Fawaid, cukup menggambarkan kerangka ideologis dalam Orientalisme. Menurut Fawaid, Representasi, adalah Kunci mengenal Orientalisme. Said, lagi menurut Fawaid,  secara sederhana hanya membicarakan representasi Timur oleh Barat. Hal ini terbagi menjadi beberapa prinsip, yaitu Pertama, mentimurkan Timur. Timur sebagai “Geografi Imajinatif”. Prinsip ini menggambarkan timur dan Barat memiliki batas yang tegas—padahal sudah tidak bisa dibuktikan bahwa Timur-Barat yang pemisahannya cenderung kultural dan politis bisa bertahan hingga kini dengan temuan-temuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Jadi tafsir Geografis Imajiner bukan kebenaran mutlak, yang benar tanpa harus disuarakan atau ditunjukan bahkan dibuktikan. Timur yang ditimurkan ini merupakan kisah panjang dari para orientalis selama ratusan tahun untuk memproduksi maknawi yang sama secara terus-menerus meskipun berasal dari sumber yang berbeda. 
Meskipun Timur sudah berkembang dinamis, sifat konservatif Orientalis tetap mereduksi Timur, dengan gabungan serampangan atas hal-hal negatif yang lagi-lagi Timur diposisikan sebagai Timur kembali oleh Barat secara imajinatif dan tekstual. Ketika kondisi aktual Timur tidak sesuai dengan teks imajinatif orientalis, maka kondisi aktual yang dikorbankan dan imajiner timur dalam Orientalis tetap bertahan. Kedua, Pandangan Negatif terhadap Islam yang sifatnya konsisten. Para Orientalis, dari yang paling vulgar hingga yang paling samar, tidak dapat menghilangkan upayanya dalam memposisikan Islam dalam situasi yang problematis; setiap kemajuan selalu dipandang rendah dan kemunduran dalam Islam sebagai problem Internal yang cacat. Belum lagi bagaimana, orientalisme menyerang Muhammad secara brutal dari segala sisi tanpa pertimbangan objektif.  Said menambahkan:

“Seperti yang pernah saya katakan, kepentingan Eropa terhadap Islam berasal bukan dari keingintahuan mereka, tetapi dari ketakutan mereka terhadap agama pesaing monoteistik bagi agama kristen ini, yang secara kultural dan militer lebih berkuasa”[5]

Serangan ini terkadang lebih luas, menyerang tidak hanya Muhammad, tetapi bangsa Arab. Orang Arab misalnya, dianggap sebagai penunggang-penunggang unta, teroris, berhidung bengkok, si hidung belang yang senang menerima suap, dan terkadang dalam seksualitas. Hal yang terakhir ini mereduksi masyarakat Arab untuk digiring pada seksualitas agar hanya memiliki sifat biologisnya, namun secara istitusional, politis dan kultural, mereka nihil. Saya menjadi ingat mengenai siaran Pers dari kedutaan Irak secara Resmi di Jakarta awal Maret 2015 lalu terkait pemberitaan bahwa Irak berada dalam kondisi memprihatinkan, Dubes Irak mengkonfirmasi dan mengatakan “jangan percaya media Barat”. Prinsip ketiga, adalah keyakinan para Orientalis bahwa hanya Barat yang—dan memang Timur—harus ditampilkan oleh Barat “mereka tidak bisa menampilkan diri mereka sendiri, mereka harus ditampilkan.”[6]
Prinsip tersebut secara terbuka sudah mengkonfirmasi kepentingan-kepentingan Orientalisme yang saling berkelindan dengan Imperialisme, kolonialisme dan dominasi peradaban Barat. Formula lanjutan dari prinsip yang ketiga ini menghasilkan sebuah panggung teater bahwa timur layak ditampilkan Barat sebagaimana Barat memahami Timur. Hingga pada titik-titik tertentu arahnya selalu sama; Timur direndahkan secara Intelektual. Bila kesadaran ini berbenturan dengan nilai-nilai Barat tentang kebebasan dan persamaan Hak, harus diakui bahwa para tokoh liberal seperti John Stuart Mill, Arnold, Caryle, Newman, Macaulay, Ruskin, George Elliot dan lainnya tidak bisa lepas dari prinsip Oreintalisme, bahwa kebebasan mereka hanya untuk ras Eropa.
Situasi kolonial memberikan angin segar bagi Orientalisme untuk berkembang lebih luas. Arah politik dunia kolonial saat itu yang dimotori oleh Inggris dan Perancis. Untuk Inggris, keberhasilannya menguasai India, serta beberapa pencapaiannya untuk mengeksploitasi sejarah budaya bangsa tersebut hingga menemukan fakta bahwa bahasa Sansekerta lebih tua daripada bahasa Ibrani.[7] Fakta tersebut digunakan untuk memperkuat sikap anti-semit Barat untuk segera meninggalkan bahasa Injil. Sedangkan Perancis ditandai dengan eksploitasi negara tersebut untuk menguasai jalur terpenting di Timur setelah kekalahan oleh Inggris di India; akhirnya Perancis berupaya menguasai Mesir.[8] Napoleon saat itu menerapkan penguasaan Mesir yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Pertama, Napoleon lebih tertarik dengan kemenangan bangsa Eropa di Timur ketimbang di Eropa sendiri; kedua, sejak remaja Napoleon sudah tertarik pada kajian timur. Ketiga, Napoleon mengenal Mesir secara taktis, strategis maupun historis. Ketiga hal tersebut menyebabkan Napoleon benar-benar tekstual terhadap Timur. Bahkan dalam buku ini, mengutip seorang penulis Biografi Napoleon, mengatakan:

“... untuk mencapai tujuan ini, enampuluh ulama yang mengajar di Al-Azhar diundang ke kantornya (Napoleon) diberi Penghormatan militer penuh dan kemudian dibujuk dengan cara memperlihatkan pada mereka kekaguman Napoleon terhadap Islam dan Mohammad serta rasa hormat Napoleon yang tampak jelas terhadap Al-Qur’an dan yang tampak sangat akrab baginya”.[9]

Kebijakan Napoleon tidak serta merta dapat dipandang sebagai komunikasi budaya setara. Sebab hal tersebut hanyalah bagian dari proyek “tekstual” untuk menguasai Mesir. Agar Mesir terjamah oleh penelitian Eropa.  Inilah yang kemudian menjadikan Mesir sebagai wilayah imajiner (sesuai dengan skema teks yang dibangun Barat atas Mesir) dan yang nyata dari semua itu adalah Terusan Suez. Sementara Mesir direduksi dalam teks, semua pihak kagum dengan pencapaian Perancis mengeksplorasi Mesir sebab membangunkan kemegahan dan setumpuk hasil Penelitian mengenai sejarah Mesir disisi lain, nyatanya pembukaan terusan Suez berjalan dengan mulus.
Selain secara imperial, orientalisme dibedah oleh Said, menjadi kepingan-kepingan teks yang tidak hanya terdiri dari pemilahan antara Orientalisme Klasik dan Modern. Tetapi lebih dalam lagi, Orientalisme telah masuk ke ranah-ranah keilmuan yang paling dianggap objektif (saat itu). Yaitu dalam Antropologi dan Filologi. Sacy dan Renan. Kedua tokoh ini merupakan kunci dari orientalisme dibidangnya. Sacy generasi pertama orientalisme yang selalu menjadi rujukan dan Renan generasi kedua. Pada halaman 194-195 disebutkan bagaimana Sacy secara gamblang mengatakan bahwa, orientalisme patut memilih teks-teks timur sesuai kepentingan Eropa dan mentransformasikan sebelum di apresiasi—disini kemudian prinsip Orientalisme kembali muncul (teks Timur dipilah antara sesuai dan tidak dengan kepentingan Eropa) lalu baru kemudian diapresiasi (?). Upaya awal Sacy kemudian diteruskan oleh Renan melalui filologi. Meskipun filologi lahir pada 1777 ketika Friedrich August Wolf menciptakan sebuah studi, Renan-lah yang kemudian mengangkat filologi menjadi bidang kajian Timur. Renan mampu membuktikan bahwa bahasa Semit merupakan bahasa yang merosot dan kurang layak.[10] Hal ini menyebabkan filologi menjadi sebuah labotarium “demonstrasi pedagogis” untuk menciptakan, membatasi dan menghakimi materi telaahnya—timur.[11] Dalam bahasa yang disukai Said, ia menganalogikan sebagai ayunan pendulum kesatu arah yang menyebabkan ayunan balik yang sama ke arah berlawanan; Timur dibagi dua, setelah bahasa Sanskerta diagung-agungkan untuk mempreteli bahasa Semit semata-mata demi satu kongklusi; merendahkan Timur.
Secara kronologis, perkembangan Orientalisme terwakili oleh banyak tokoh yang tidak bisa semua saya sebutkan disini. Akan tetapi pada perkembangan lanjutan, Orientalisme diteruskan oleh Gibbs dan Massignon. Apakah kedua tokoh ini melanjutkan prinsip Orientalisme yang bersifat “meringkas” terhadap Timur? pada perjalanannya, memang kedua tokoh ini bersikap kritis pada Orientalisme sebelumnya; anti-positivistik, intuitif dan simpatik.[12] Perbedaaan metodologis ada pada cara dimana mereka tidak mengabaikan hal-hal detail dari Timur, artinya induktif. Hal-hal khusus melahirkan gagasan Umum yang sebelumnya  deduktif. Secara samar, meskipun Gibbs sudah menghilangkan dislokasi tentang Timur dalam Orientalisme, Gibbs berada dalam tataran percaya bahwa Islam dirusak oleh para pemeluknya atau para pembaharu yang oportunis, sebab Gibbs merasa jauh didepan melampaui Islam yang tengah dipraktekan, dikaji dan berjalan dalam realitas saat itu. Sedangkan Massignon, yang diakui membela Islam disatu sisi dan membebaskan dirinya dalam “ortodoksi” disisi lain.[13] Meskipun keduanya tidak pernah menafikan--secara samar tetap-- melemahkan Islam dihadapan Eropa. Sebab mereka tidak mampu menolak hasrat Eropa Sentris untuk menundukan Islam dihadapan Eropa[14]

Setelah Inggris dan Perancis; Amerika
Pasca Perang Dunia I dan II, terhitung sejak 1960-an situasi politik berubah. Banyak wilayah-wilayah kolonial yang merdeka dari Perancis maupun Inggris yang sudah tidak dapat menguasai sepenuhnya wilayah jajahan di Timur; yang tersisa hanya penguasaan tekstual dan Intelektual saja. Di Barat, kajian ketimuran mulai Tumbuh di Amerika, seiring dengan peran, pengaruh dan kepentingan Amerika di Timur; dibukalah banyak fakultas atau studi-studi ketimuran. Dari sekian tokoh Orientalis Amerika, kita mengenai beberapa diantaranya Sania Hamady, Morroe Berger, Raphael Patani dan lainnya.
Para Orientalis Amerika tetap meneruskan prinsip Orientalisme dalam bentuk dogma; pertama bahwa timur terbelakang dan Barat rasional. Kedua, Bahwa para Orientalis tersebut lebih mengutamanakan manuskrip klasik Timur ketimbang bukti langsung mengenai kehidupan timur dalam realitas. Ketiga, bahwa timur abadi, seragam dan tidak mampu mendefinisikan dirinya sendiri.[15] Bila pada masa Renan, anti-semit dipukul rata sebagai bagian dari Timur, para Orientalis Amerika mereduksi menjadi sekedar Islam dan zionisme seketika hilang meskipun yang dibahas adalah wilayah Israel. Secara kelembagaan, Amerika mencoba mendirikan aparatus-aparatus riset mengenai Timur, seperti Institut Timur Tengah di Washington tahun 1946, lalu beberapa asosiasi-asosiasi kajian Timur Tengah bersama Ford Foundation, Departemen Pertahanan, Korporasi RAND, Institut Hudson dan perusahaan multi-nasonal lainnya. Said memaparkan dengan jelas bagaimana kemunculan Orientalis Amerika secara riwayat kehidupan akademis orang tersebut. Memakai sumber-sumber Arab yang tidak valid, seleksi data yang serampangan dan semua itu menjadi thesis-thesis yang absurd mengenai Islam. Sebuah penggalan dari kajian teks kritis Said menggambarkan bagaiman seorang Orientalis Amerika menulis dalam kalimat:

“sesekali waktu, Khalifah muncul, namun selanjutnya memutuskan kontak dengan masyarakat Baghdad dan terus bermukin di Merv, dengan mempercayakan pemerintahan atas Irak kepada salahseorang kepercayaanny, Al Hasan bin Sahl, saudara dari al-Fadl, yang hampir dengan seketika dihadapkan dengan pemberontakan Syi’ah, yang dipimpin oleh Abu’l-Saraya, yang pada bulan Jumadil akhir 199/Januari 815 meminta bantuan senjata dari Kuffah untuk membantu Ibnu Tabataba dari keluarga Hasan”[16]
Lalu Said menambahkan“seandainya ada orang yang sama sekali tidak memahami Islam membaca penggalan ini, dia tentu tidak akan tahu apa itu syiah dan siapa itu keluarga Hasan. ... Pada akhirnya dia akan begitu saja percaya bahwa pada Dinasti Abbasiy’ah, termasuk Harun Al-Rasyid, ternyata orang yang tolol, hina dan pembunuh-pembunuh yang haus darah, yang duduk bermalas-malasan di Merv. Bahkan dalam Cambridge History of Islam, kekuasaan Islam bahkan tidak mencakup Afrika Utara dan Andalusia (Spanyol).[17]

Sampai disini, dapat dicermati bahwa Orientalisme tetap konsisten mempertahankan prinsip prinsipnya meskipun sebenarnya Timur sendiri sudah mengalami dinamika sejak Orientalisme muncul pertama kali. Fokus Said mengenai Pengetahuan dan kekuasaan, diakui olehnya dipengaruhi oleh Michel Foucault. Lalu kemudian apakah Said memang benar-benar tidak pernah membahas wilayah Timur lain selain Timur dekat/ Timur tengah? Dalam beberapa penggalannya mengenai Orientalisme, Said menceritakan bagaimana pada Kongres Orientalisme pertama tahun 1873, para Orientalisme sudah terikat secara politis dalam wilayah kajiannya. Satu nama yang dikenal para sejarawan Indonesia adalah Snouck Hurgronje. Setelah menjadi pengkaji Islam—kita semua mengetahui—ia akhirnya menjadi penasihat pemerintah belanda dalam menangani tanah jajahan Islam Indonesia.[18] Lalu pada halaman berikutnya, Said mengupas bagaimana Hurgronje meskipun menyadari terkadang “Hukum Islam” harus menyerah pada tekanan sejarah—ia tetap memeprtahankan abstraksi-abstraksi bahwa hukum Islam terikat pada kehendak otorite penguasa.[19]






[1]Agnostik adalah sikap mempercayai Tuhan bila sudah membuktikan sendiri.
[2]xvi
[3] 18
[4] 2-3
[5] 535
[6] 457
[7] 208
[8] 113
[9] 123
[10] 216
[11] 219
[12] 399
[13] 422
[14] 441
[15] 468-469
[16] 472-473
[17] Ibid,
[18] 322
[19] 395

Friday, 6 February 2015

Asa yang Terbelenggu Tradisi Feodalisme[1]

Oleh: Hafidh Ayatilah A[2] 

"Sastra menjadi kekuatan bagi mereka yang sama sekali tidak mempunyai kebebasan dan kekuasaan. Maka, hanya dengan mengarang lah Kartini bisa menunjukkan kekuatannya.”
-Pramoedya Ananta Toer-      

Panggil Aku Kartini SajaPramoedya Ananta ToerLentera Dipatara , 2006301 halaman
Latar belakang dari novel ini merupakan suatu biografi kartini, yang menjelaskan garis leluhur keturunannya, kelahiran seorang “Kartini”, pendidikannya, sampai dengan perjuangan-perjuangan dan karya-karyanya. Narasi yang menggambarkan Kartini mengalami konflik kekeluargaan, dimana ia harus memilih antara ayah atau ibunya. ‘Kecintaannya’  lebih besar ditaruh pada sang ayahanda sehingga apapun ia lakukan demi membuat ayahnya senang, dengan membuat lukisan-lukisan sampai menulis sebuah karya sastra. Novel ini juga mengandung ide-ide dari seorang Kartini dalam perjuangannya yang membela kaum wanita dari kekalnya tradisi feodalisme yang memandang rendah kaum wanita. Belum lagi para wanita yang berasal dari rakyat jelata. Beruntungnya Kartini terlahir sebagai anak keturunan priyayi.
Secara gamblang dalam novel Pram ini, mengurai persoalan stratifikasi sosial yang sangat mencolok akibat adanya feodalisme. Pram yang menulis novel ini pada masa Demokrasi Terpimpin atau pada era Soekarno, dimana pada masa ini ada niatan untuk menghapuskan mental feodalisme dan dekolonisasi dalam masyarakat. Sehingga untuk itu Pram mengharapkan hadirnya gagasan tersebut disambut dengan tumbuhnya sifat nasionalisme pada masyarakat.
Saya akan sedikit mengulas ulang tentang isi dari Novel ini. Pemberontakan Diponegoro yang berhasil dipatahkan belanda, mengakibatkan banyak nyawa yang melayang serta banyaknya harta benda yang terkuras dari kedua belah pihak. Tak ayal perang ini adalah perang termahal dalam catatan sejarah penjajahan Belanda, hal inipun menyebabkan nilai uang jatuh yang disebabkan karena kebangkrutan De Javasche Bank yang waktu itu baru didirikan. Situasi ini membuat Belanda menghadirkan sosok Johanes Van Den Bosch pada tahun 1830. Van Den Bosch yang merupakam pensiunan Komisaris Jendral Hindia Barat, menawarkan kepada raja Willem rencana Cultuurstelsel.
Pada konsep yang ditawarkan itu, tidak terlihat kekejian yang Van Den Bosch rencanakan tetapi saat ia datang ke tanah Jawa semua berubah sangat drastis. Ia mulai lebih keras menghisap kekayaan bumi dan tenaga manusia Pribumi dan menyebabkan surutnya harga dari manusia Pribumi. Menurut rencananya, penduduk bila menghendaki, boleh menanami seperlima dari tanahnya dengan tanaman- tanaman yang dikehendaki oleh Gubernemen yaitu nila, gula, kopi dan tembakau yang hasilnya dapat diserahkan kepada pemerintahan dengan “harga pasar”, dan dengan itu tanah mereka bebas dari pajak bumi, pada prakteknya dibeberapa tempat tetap ada oknum yang mengambil paksa pajak bumi tersebut.
Semua perlakuan tanam paksa itu terus berlangsung hingga saaat Golongan liberal mulai mendesak akan penghapusan tanam paksa tersebut. Mereka itulah, Multatuli dengan karyanya Max Havelaar, E.S.W. Roorda van Eisinga alias Sentot dan juga yang tidak kalah penting yaitu Dr. Ds. Baron van Hoevell yang meskipun berpihak kepada tanam paksa tetapi di kalangan pendidikan ia merupakan pelopor golongan liberal. Untuk pertama kali dalam sejarah penjajahan di Indonesia orang mempergunakan kata “modern”. Faktanya penjajahan pada waktu itu mulai menjadi intensif, menjadi modern, karena perkembangan negara induk penjajah sendiri.
Kaum liberalis ini adalah orang yang mulai melepaskan diri dari cengkraman feodalisme, menjadi dirinya, yaitu demokrasi. Golongan ini menghendaki kelonggaran-kelonggaran dari cengkraman feodal, birokrasi dan diktator hierarki kepegawaian. Akibat adanya golongan ini banyak terjadi perubahan dari pemerintahan Hindia Belanda, tanam paksa yang semula di tekan lambat laun dilepas terkecuali bagi tebu dan kopi. Multatuli yang melawan tanam paksa menjadi penganjur “kerja merdeka”, dengan itu maka petani-petani menjadi terlantung-lantung dan dengan demikian munculah kelas proletar untuk pertama kali di Indonesia, dan salah seorang proletar adalah Madirono, mandor pabrik gula, bapak Ngasirah, Kakek Kartini. Demam kapitalisme merambah luas, dengan ditemukannya mesin-mesin, dibangunnya pelabuhan samudra yang berlangsung sekitar tahun 1877 semua menjadi sangat mudah. Tetapi tetap saja semua itu tidak mengubah sedikitpun kondisi masyarakat miskin di Jawa.
Pada saat kelaparan melanda Demak dan Grobogan diangkatlah seorang Bupati yaitu Ario Tjondronegoro. Dimana sebelumnya Ario Tjondronegoro adalah Bupati di Kudus residensi Jepara, setelah ia diangkat menjadi bupati pada 1850, tidak dikabarkan lagi adanya kelaparan yang melanda daerah tersebut. Bagaimana tanggapan ia tentang tanam paksa tidak jelas, tetapi yang pasti ia sangat iba melihat rakyatnya menderita dan kelaparan. Apa daya, ia hanya seorang Bupati, tetapi ia adalah seorang Pribumi yang bisa dikatakan berfikir jauh tentang semua kolonialisme dan perang-perang pemberontakan yang sudah terjadi sebelumnya. Dalam usaha membela rakyatnya ia hanya bisa mengirimkan nota kepada pemerintahan Hindia Belanda pusat, isi dari laporan itu adalah laporan-laporan dan keluhan. Karena notanya itu pula setelah 2 tahun ia menjabat ia mendapat gelar “Pangeran” dari Hindia Belanda karena jasa jasanya dalam memakmurkan daerahnya.
Melalui cara berfikirnya Ario Tjondronegoro pun dapat melihat perbedaan antara penjajah dan yang dijajah yang secara garis besar adalah dari faktor kemajuan, semangat modern dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu ia mulai membekali anak-anaknya dengan pengetahuan bahasa Belanda, karena pada waktu itu pengetahuan tentang bahasa bisa dibilang nol. Hanya ada beberapa Bupati yang menguasa baca dan tulis bahasa Belanda yang antara lain yaitu paman Kartini Pangeran Ario Hadiningrat, ayah Kartini R.M.A Ario Sosroningrat dan sisanya Bupati Cirebon yang sedikit mendapatkan didikan.
Keluarga Kartini bisa dibilang keluarga yang terdidik karena sempat mendapat ilmu dari guru rumahan dari Belanda. Kartini adalah sosok orang yang sangat menghargai leluhurnya dengan cara mengingat dan menceritakan asal muasal leluhurnya dan tak kalah penting hubungan Kartini dengan leluhurnya pun diwarisinya dengan ciri fisik yang ada di tubuhnya baik itu dari ayahnya, ibunya maupun dari kakeknya. Masa Kartini kecil tidak dapat diketahui secara keseluruhan baik itu tempat kelahirannya maupun siapa yang mengasuhnya selama ia masih balita, tetapi banyak hipotesis yang diajukan yaitu bahwa ia diasuh oleh ibunya, diasuh oleh seorang emban, bahkan dugaan ia diasuh oleh ibu tirinya. Tetapi apapun hasil dan dugaan itu yang pasti ada semacam konflik dalam keluarga Kartni, karena dalam surat-surat yang ditujukan kepada Estella Zeehandelaar isinya dapat digambarkan seseorang yang sedang mengalami konflik jiwa yang sangat luar biasa. Sekiranya seperti itulah sedikit penjabaran dari isi novel ini.
Tanggapan saya tentang novel ini cukup sederhana, novel karangan Pramoedya Ananta Toer ini cukup memberikan informasi dan narasi umum yang berguna sekali terhadap materi untuk pembelajaran sejarah, disamping penjelasan yang sangat rinci dari isi ataupun biografi seorang Kartini. Dalam penulisan buku ini, penulis menggunakan bahasa yang cukup mudah dicerna oleh kalangan mana saja karena bahasa yang digunakan adalah bahasa pergaulan atau yang sehari hari digunakan oleh orang banyak. Novel ini sangat berhasil menyajikan alur cerita yang menarik bagi para pembacanya. Melalui bahasa yang populer dan nilai-nilai humanisme yang  membuat pembaca secara tidak sadar sedang mempelajari sejarah pada setiap narasi novel ini, karena Pram menyelipkan unsur pengetahuan dengan menonjolkan daya tarik dari alurnya.



[1] Resensi ini juga merupakan salah satu syarat memenuhi tugas mata kuliah dasar-dasar filsafat yang diampu oleh Dra. Budiarti, M.Pd. (Naskah ini sudah mengalami proses editing)
[2] Mahasiswa Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Jakarta tahun masuk 2014. Mengambil konsentrasi pendidikan sejarah, NIM. 4415140886, Line: linkenspr