Tuesday, 22 September 2015

Orientalisme

Oleh: Iman Zaenatul Haeri, S.Pd*

"Melakukan kajian perkembangan pemikiran tentang Orientalisme tidaklah mudah, Orientalisme masa kini mengajarkan kepada kita banyak hal mengenai ketidakjujuran intelektual dalam menyamarkan dan mengaburkan pembagian-pembagian tersebut (Timur-Barat / Utara-Selatan / Imperialis-Anti-Imperialis / Rasis-Anti-Rasis), yang hasilnya adalah semakin parah dan semakin permanen pengkotak-kotakan yang tidak proposional."


Orientalisme
Menggugat Hegemoni Barat dan
Mendudukan Timur Sebagai Subjek
Edward Said
Pustaka Pelajar, 2010
xxxii + 558 halaman
Pengantar
Situasi politik, ekonomi, kebudayaan Timur Tengah belum stabil hingga kini. Berbagai perang saudara, pembunuhan masal serta aksi-aksi teror terus mewarnai pemerintahan Nasional di kawasan tersebut yang silih berganti dengan pilihan yang dipaksakan; otoriter atau demokratis bahkan sebaliknya tidak kunjung menyelesaikan masalah; perpecahan iya. Apakah kita bisa berharap, manusia yang lahir ditengah konflik multidimensi tersebut bisa membuat sebuah karya intelektual monumental yang mampu menjelaskan—diluar dugaan—situasi dunia global kekinian? Kita ambil contoh paling imajinatif bahwa ditengah-tengah konflik lahirlah seorang anak manusia yang mampu memetakan situasi tersebut secara tajam dan terbuka diluar keterbatasan psikisnya yang meragukan untuk berfikir objektif akan lingkup diluar dirinya. Hal tersebut tidaklah imajinatif sebab Edward W Said lahir di Palestina.
Ia dibesarkan di Mesir dan Palestina, sebagian besar karir akademisnya dibangun di Amerika; perjalanan hidupnya ini mengantarkan Said kedalam paradoks identitas. Ia hidup di lingkungan Palestina yang mayoritas Muslim, meski ia berasal dari keluarga Keristen; ia memilih Agnostik.[1] Ayahnya memaksakan identitas “Edward” padanya meskipun menjadi Said—identitas Arabnya-- tidak pernah ia pilih secara penuh.
Karyanya ini, Orientalisme, merupakan pergulatan intelektualnya yang bahkan menurutnya:

“saya sama sekali tidak pernah menyangka bahwa buku ini dapat menarik banyak perhatian dari berbagai kalangan yang justru belum saya bahas secara tuntas dalam buku ini, khususnya dari masyarakat Timur(jauh) itu sendiri”[2].

Pernyataan ini yang menjawab keresahan beberapa kalangan mengapa Said tidak membahas secara luas para orientalis yang fokus di wilayah “Timur Jauh”. Orientalisme membahas mengenai Barat dan Timur. Yaitu relasi kekuasaan politik, Intelektual, kultural dan Moral diantara keduanya. Orientalisme bisa dimaknai sebagai cara Barat memandang Timur—meski masih banyak makna lain. Secara kasat, Timur dibagi menjadi beberapa penggalan, yang pertama Timur Tengah yang diasosiasikan dalam wacana Islam dan bangsa Arab, yang kedua adalah Timur Jauh; India, China, serta beberapa wilayah Asia lainnya—seperti telah disebutkan Said tidak terlalu mendalami untuk relasi wilayah Timur tersebut. Oleh sebab itu, maka wajar bila Said tidak pernah menyinggung Suma Oriental Tome Pires yang memiliki ekses Orientalis yang paling ketara dan vulgar.
Orientalisme menjadi penting bukan karena wacana ini hanya sekedar relasi dua peradaban besar, tetapi wacana ini memiliki rentan waktu yang cukup panjang dengan upaya-upaya tidak henti dari sekian banyak intelektuaL Barat yang sengaja maupun tidak mempertahankan tradisi orientalisme dalam setiap kajiannya. Lalu apa itu Orientalisme?
Secara gamblang, tidak adil kiranya menjelaskan Orientalisme hanya sebatas eksplanasi formal. Dimana karakteristiknya disebutkan dalam poin-poin yang tegas, definisi yang sakral serta ruang lingkup yang tidak berubah; Said jelas tidak mengarahkannya kesana. Said mengerti betul problematis upayanya untuk membedah Orientalisme secara luas dan mendalam sehingga ia secara jujur menjelaskan perbedaan pengetahuan murni dan pengetahuan politis,  masalah metodologis yang ia temui serta sisi-sisi psikologis atau analisa diri sejak Bab pertama buku ini.
Problematika Pengetahuan Murni dan Pengetahuan Politis yang menjadi kontradiksi dalam Orientalisme sebetulnya sudah dimulai ketika Barat memproklamirkan keberadaan pengetahuan murni yang bisa didapatkan dengan kajian ilmiah. Tetapi Said sudah menyadari secara historis, bahwa kelahiran Orientalisme merupakan kenyataan politik dan Budaya, maka ia tidak berada di ruang hampa[3]. Oleh sebab itu, objektivitas Barat memandang timur yang terdapat dalam Orientalisme sangat-sangat dipertanyakan. Permasalahannya, rentan waktu yang sekian panjang tersebut, cara pandang yang lahir dari keserampangan Barat memberi label siapapun intelektualnya; mengajar, menulis dan melakukan penelitian tentang dunia timur—entah ia seorang sejarawan, antropolog, sosiolog ataupun filolog—mereka selalu disebut orientalis. Orang-orang yang dianggap ahli mengenai dunia Timur, yang dalam buku ini dipertanyakan keahliannya.[4]Hal ini sekaligus menggugurkan bahwa Orientalisme merupakan pengetahuan Murni.
Diakui ataupun tidak, keberadaan Otoman Turki sebagai lambang kekuasaan Islam sejak abad ke 15 (silahkan ralat) hingga kemundurannya pada abad ke 19 telah menjadi momok menakutkan bagi Barat (Eropa). Saat itu, Islam dipandang sebagai puncak peradaban Dunia secara Politik, ekonomi, intelektual, teknologi, dan semua sub keilmuan mencakup astronomi hingga kedokteran. Atau dalam bahasa sinis, keunggulan dunia Arab tersebut ditafsirkan sebagai keunggulan musuh Kristus; sebab kedatangan Islam membatalkan ketuhanan Yesus. Fenomena ini kemudian melahirkan peristiwa-peristiwa bersejarah seperti Perang Salib. Sejak itu, Timur diasosiasikan sebagai wilayah eksotis tidak tersentuh—sebagai ketidakmampuan barat mencapai peradaban Islam, sebuah peradaban besar yang misterius, keunggulan-keunggulan yang belum dapat difahami Barat yang terkemuka melalui sastra-sastranya, dalam hal ini Said bahkan melihat benih Orientalisme dalam karya Williams Sakspeare.
Sayang, minimnya pengetahuan Barat tentang Timur menjadikan munculnya prinsip-prinsip tersebut tidak hilang meski dalam beberapa dekade lanjutan, Barat sudah memiliki data literatur timur yang begitu melimpah melalui perkembangan Imperialisme dan Kolonialisme. Orientalisme adalah semacam asumsi budaya Barat melihat budaya Timur. Ketika memasuki Era Kolonialisme, paradigma Orientalisme tidaklah berubah. Bila kemudian Barat, setelah berhasil menaklukan wilayah Timur, persis ketika Napoleon secara bersemangat mengeksplorasi sejarah-arkeologi di Mesir setelah menemukan Piramid—keterkejutan bahwa ada peradaban besar yang sudah lama—tidak membuat prinsip Orientalisme hilang.

Prinsip Orientalisme
Lalu apa yang dimaksud prinsip-prinsip Orientalisme? Pengantar dari penerjemah bahasa Indonesia buku ini, Achmad Fawaid, cukup menggambarkan kerangka ideologis dalam Orientalisme. Menurut Fawaid, Representasi, adalah Kunci mengenal Orientalisme. Said, lagi menurut Fawaid,  secara sederhana hanya membicarakan representasi Timur oleh Barat. Hal ini terbagi menjadi beberapa prinsip, yaitu Pertama, mentimurkan Timur. Timur sebagai “Geografi Imajinatif”. Prinsip ini menggambarkan timur dan Barat memiliki batas yang tegas—padahal sudah tidak bisa dibuktikan bahwa Timur-Barat yang pemisahannya cenderung kultural dan politis bisa bertahan hingga kini dengan temuan-temuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Jadi tafsir Geografis Imajiner bukan kebenaran mutlak, yang benar tanpa harus disuarakan atau ditunjukan bahkan dibuktikan. Timur yang ditimurkan ini merupakan kisah panjang dari para orientalis selama ratusan tahun untuk memproduksi maknawi yang sama secara terus-menerus meskipun berasal dari sumber yang berbeda. 
Meskipun Timur sudah berkembang dinamis, sifat konservatif Orientalis tetap mereduksi Timur, dengan gabungan serampangan atas hal-hal negatif yang lagi-lagi Timur diposisikan sebagai Timur kembali oleh Barat secara imajinatif dan tekstual. Ketika kondisi aktual Timur tidak sesuai dengan teks imajinatif orientalis, maka kondisi aktual yang dikorbankan dan imajiner timur dalam Orientalis tetap bertahan. Kedua, Pandangan Negatif terhadap Islam yang sifatnya konsisten. Para Orientalis, dari yang paling vulgar hingga yang paling samar, tidak dapat menghilangkan upayanya dalam memposisikan Islam dalam situasi yang problematis; setiap kemajuan selalu dipandang rendah dan kemunduran dalam Islam sebagai problem Internal yang cacat. Belum lagi bagaimana, orientalisme menyerang Muhammad secara brutal dari segala sisi tanpa pertimbangan objektif.  Said menambahkan:

“Seperti yang pernah saya katakan, kepentingan Eropa terhadap Islam berasal bukan dari keingintahuan mereka, tetapi dari ketakutan mereka terhadap agama pesaing monoteistik bagi agama kristen ini, yang secara kultural dan militer lebih berkuasa”[5]

Serangan ini terkadang lebih luas, menyerang tidak hanya Muhammad, tetapi bangsa Arab. Orang Arab misalnya, dianggap sebagai penunggang-penunggang unta, teroris, berhidung bengkok, si hidung belang yang senang menerima suap, dan terkadang dalam seksualitas. Hal yang terakhir ini mereduksi masyarakat Arab untuk digiring pada seksualitas agar hanya memiliki sifat biologisnya, namun secara istitusional, politis dan kultural, mereka nihil. Saya menjadi ingat mengenai siaran Pers dari kedutaan Irak secara Resmi di Jakarta awal Maret 2015 lalu terkait pemberitaan bahwa Irak berada dalam kondisi memprihatinkan, Dubes Irak mengkonfirmasi dan mengatakan “jangan percaya media Barat”. Prinsip ketiga, adalah keyakinan para Orientalis bahwa hanya Barat yang—dan memang Timur—harus ditampilkan oleh Barat “mereka tidak bisa menampilkan diri mereka sendiri, mereka harus ditampilkan.”[6]
Prinsip tersebut secara terbuka sudah mengkonfirmasi kepentingan-kepentingan Orientalisme yang saling berkelindan dengan Imperialisme, kolonialisme dan dominasi peradaban Barat. Formula lanjutan dari prinsip yang ketiga ini menghasilkan sebuah panggung teater bahwa timur layak ditampilkan Barat sebagaimana Barat memahami Timur. Hingga pada titik-titik tertentu arahnya selalu sama; Timur direndahkan secara Intelektual. Bila kesadaran ini berbenturan dengan nilai-nilai Barat tentang kebebasan dan persamaan Hak, harus diakui bahwa para tokoh liberal seperti John Stuart Mill, Arnold, Caryle, Newman, Macaulay, Ruskin, George Elliot dan lainnya tidak bisa lepas dari prinsip Oreintalisme, bahwa kebebasan mereka hanya untuk ras Eropa.
Situasi kolonial memberikan angin segar bagi Orientalisme untuk berkembang lebih luas. Arah politik dunia kolonial saat itu yang dimotori oleh Inggris dan Perancis. Untuk Inggris, keberhasilannya menguasai India, serta beberapa pencapaiannya untuk mengeksploitasi sejarah budaya bangsa tersebut hingga menemukan fakta bahwa bahasa Sansekerta lebih tua daripada bahasa Ibrani.[7] Fakta tersebut digunakan untuk memperkuat sikap anti-semit Barat untuk segera meninggalkan bahasa Injil. Sedangkan Perancis ditandai dengan eksploitasi negara tersebut untuk menguasai jalur terpenting di Timur setelah kekalahan oleh Inggris di India; akhirnya Perancis berupaya menguasai Mesir.[8] Napoleon saat itu menerapkan penguasaan Mesir yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Pertama, Napoleon lebih tertarik dengan kemenangan bangsa Eropa di Timur ketimbang di Eropa sendiri; kedua, sejak remaja Napoleon sudah tertarik pada kajian timur. Ketiga, Napoleon mengenal Mesir secara taktis, strategis maupun historis. Ketiga hal tersebut menyebabkan Napoleon benar-benar tekstual terhadap Timur. Bahkan dalam buku ini, mengutip seorang penulis Biografi Napoleon, mengatakan:

“... untuk mencapai tujuan ini, enampuluh ulama yang mengajar di Al-Azhar diundang ke kantornya (Napoleon) diberi Penghormatan militer penuh dan kemudian dibujuk dengan cara memperlihatkan pada mereka kekaguman Napoleon terhadap Islam dan Mohammad serta rasa hormat Napoleon yang tampak jelas terhadap Al-Qur’an dan yang tampak sangat akrab baginya”.[9]

Kebijakan Napoleon tidak serta merta dapat dipandang sebagai komunikasi budaya setara. Sebab hal tersebut hanyalah bagian dari proyek “tekstual” untuk menguasai Mesir. Agar Mesir terjamah oleh penelitian Eropa.  Inilah yang kemudian menjadikan Mesir sebagai wilayah imajiner (sesuai dengan skema teks yang dibangun Barat atas Mesir) dan yang nyata dari semua itu adalah Terusan Suez. Sementara Mesir direduksi dalam teks, semua pihak kagum dengan pencapaian Perancis mengeksplorasi Mesir sebab membangunkan kemegahan dan setumpuk hasil Penelitian mengenai sejarah Mesir disisi lain, nyatanya pembukaan terusan Suez berjalan dengan mulus.
Selain secara imperial, orientalisme dibedah oleh Said, menjadi kepingan-kepingan teks yang tidak hanya terdiri dari pemilahan antara Orientalisme Klasik dan Modern. Tetapi lebih dalam lagi, Orientalisme telah masuk ke ranah-ranah keilmuan yang paling dianggap objektif (saat itu). Yaitu dalam Antropologi dan Filologi. Sacy dan Renan. Kedua tokoh ini merupakan kunci dari orientalisme dibidangnya. Sacy generasi pertama orientalisme yang selalu menjadi rujukan dan Renan generasi kedua. Pada halaman 194-195 disebutkan bagaimana Sacy secara gamblang mengatakan bahwa, orientalisme patut memilih teks-teks timur sesuai kepentingan Eropa dan mentransformasikan sebelum di apresiasi—disini kemudian prinsip Orientalisme kembali muncul (teks Timur dipilah antara sesuai dan tidak dengan kepentingan Eropa) lalu baru kemudian diapresiasi (?). Upaya awal Sacy kemudian diteruskan oleh Renan melalui filologi. Meskipun filologi lahir pada 1777 ketika Friedrich August Wolf menciptakan sebuah studi, Renan-lah yang kemudian mengangkat filologi menjadi bidang kajian Timur. Renan mampu membuktikan bahwa bahasa Semit merupakan bahasa yang merosot dan kurang layak.[10] Hal ini menyebabkan filologi menjadi sebuah labotarium “demonstrasi pedagogis” untuk menciptakan, membatasi dan menghakimi materi telaahnya—timur.[11] Dalam bahasa yang disukai Said, ia menganalogikan sebagai ayunan pendulum kesatu arah yang menyebabkan ayunan balik yang sama ke arah berlawanan; Timur dibagi dua, setelah bahasa Sanskerta diagung-agungkan untuk mempreteli bahasa Semit semata-mata demi satu kongklusi; merendahkan Timur.
Secara kronologis, perkembangan Orientalisme terwakili oleh banyak tokoh yang tidak bisa semua saya sebutkan disini. Akan tetapi pada perkembangan lanjutan, Orientalisme diteruskan oleh Gibbs dan Massignon. Apakah kedua tokoh ini melanjutkan prinsip Orientalisme yang bersifat “meringkas” terhadap Timur? pada perjalanannya, memang kedua tokoh ini bersikap kritis pada Orientalisme sebelumnya; anti-positivistik, intuitif dan simpatik.[12] Perbedaaan metodologis ada pada cara dimana mereka tidak mengabaikan hal-hal detail dari Timur, artinya induktif. Hal-hal khusus melahirkan gagasan Umum yang sebelumnya  deduktif. Secara samar, meskipun Gibbs sudah menghilangkan dislokasi tentang Timur dalam Orientalisme, Gibbs berada dalam tataran percaya bahwa Islam dirusak oleh para pemeluknya atau para pembaharu yang oportunis, sebab Gibbs merasa jauh didepan melampaui Islam yang tengah dipraktekan, dikaji dan berjalan dalam realitas saat itu. Sedangkan Massignon, yang diakui membela Islam disatu sisi dan membebaskan dirinya dalam “ortodoksi” disisi lain.[13] Meskipun keduanya tidak pernah menafikan--secara samar tetap-- melemahkan Islam dihadapan Eropa. Sebab mereka tidak mampu menolak hasrat Eropa Sentris untuk menundukan Islam dihadapan Eropa[14]

Setelah Inggris dan Perancis; Amerika
Pasca Perang Dunia I dan II, terhitung sejak 1960-an situasi politik berubah. Banyak wilayah-wilayah kolonial yang merdeka dari Perancis maupun Inggris yang sudah tidak dapat menguasai sepenuhnya wilayah jajahan di Timur; yang tersisa hanya penguasaan tekstual dan Intelektual saja. Di Barat, kajian ketimuran mulai Tumbuh di Amerika, seiring dengan peran, pengaruh dan kepentingan Amerika di Timur; dibukalah banyak fakultas atau studi-studi ketimuran. Dari sekian tokoh Orientalis Amerika, kita mengenai beberapa diantaranya Sania Hamady, Morroe Berger, Raphael Patani dan lainnya.
Para Orientalis Amerika tetap meneruskan prinsip Orientalisme dalam bentuk dogma; pertama bahwa timur terbelakang dan Barat rasional. Kedua, Bahwa para Orientalis tersebut lebih mengutamanakan manuskrip klasik Timur ketimbang bukti langsung mengenai kehidupan timur dalam realitas. Ketiga, bahwa timur abadi, seragam dan tidak mampu mendefinisikan dirinya sendiri.[15] Bila pada masa Renan, anti-semit dipukul rata sebagai bagian dari Timur, para Orientalis Amerika mereduksi menjadi sekedar Islam dan zionisme seketika hilang meskipun yang dibahas adalah wilayah Israel. Secara kelembagaan, Amerika mencoba mendirikan aparatus-aparatus riset mengenai Timur, seperti Institut Timur Tengah di Washington tahun 1946, lalu beberapa asosiasi-asosiasi kajian Timur Tengah bersama Ford Foundation, Departemen Pertahanan, Korporasi RAND, Institut Hudson dan perusahaan multi-nasonal lainnya. Said memaparkan dengan jelas bagaimana kemunculan Orientalis Amerika secara riwayat kehidupan akademis orang tersebut. Memakai sumber-sumber Arab yang tidak valid, seleksi data yang serampangan dan semua itu menjadi thesis-thesis yang absurd mengenai Islam. Sebuah penggalan dari kajian teks kritis Said menggambarkan bagaiman seorang Orientalis Amerika menulis dalam kalimat:

“sesekali waktu, Khalifah muncul, namun selanjutnya memutuskan kontak dengan masyarakat Baghdad dan terus bermukin di Merv, dengan mempercayakan pemerintahan atas Irak kepada salahseorang kepercayaanny, Al Hasan bin Sahl, saudara dari al-Fadl, yang hampir dengan seketika dihadapkan dengan pemberontakan Syi’ah, yang dipimpin oleh Abu’l-Saraya, yang pada bulan Jumadil akhir 199/Januari 815 meminta bantuan senjata dari Kuffah untuk membantu Ibnu Tabataba dari keluarga Hasan”[16]
Lalu Said menambahkan“seandainya ada orang yang sama sekali tidak memahami Islam membaca penggalan ini, dia tentu tidak akan tahu apa itu syiah dan siapa itu keluarga Hasan. ... Pada akhirnya dia akan begitu saja percaya bahwa pada Dinasti Abbasiy’ah, termasuk Harun Al-Rasyid, ternyata orang yang tolol, hina dan pembunuh-pembunuh yang haus darah, yang duduk bermalas-malasan di Merv. Bahkan dalam Cambridge History of Islam, kekuasaan Islam bahkan tidak mencakup Afrika Utara dan Andalusia (Spanyol).[17]

Sampai disini, dapat dicermati bahwa Orientalisme tetap konsisten mempertahankan prinsip prinsipnya meskipun sebenarnya Timur sendiri sudah mengalami dinamika sejak Orientalisme muncul pertama kali. Fokus Said mengenai Pengetahuan dan kekuasaan, diakui olehnya dipengaruhi oleh Michel Foucault. Lalu kemudian apakah Said memang benar-benar tidak pernah membahas wilayah Timur lain selain Timur dekat/ Timur tengah? Dalam beberapa penggalannya mengenai Orientalisme, Said menceritakan bagaimana pada Kongres Orientalisme pertama tahun 1873, para Orientalisme sudah terikat secara politis dalam wilayah kajiannya. Satu nama yang dikenal para sejarawan Indonesia adalah Snouck Hurgronje. Setelah menjadi pengkaji Islam—kita semua mengetahui—ia akhirnya menjadi penasihat pemerintah belanda dalam menangani tanah jajahan Islam Indonesia.[18] Lalu pada halaman berikutnya, Said mengupas bagaimana Hurgronje meskipun menyadari terkadang “Hukum Islam” harus menyerah pada tekanan sejarah—ia tetap memeprtahankan abstraksi-abstraksi bahwa hukum Islam terikat pada kehendak otorite penguasa.[19]






[1]Agnostik adalah sikap mempercayai Tuhan bila sudah membuktikan sendiri.
[2]xvi
[3] 18
[4] 2-3
[5] 535
[6] 457
[7] 208
[8] 113
[9] 123
[10] 216
[11] 219
[12] 399
[13] 422
[14] 441
[15] 468-469
[16] 472-473
[17] Ibid,
[18] 322
[19] 395

Friday, 6 February 2015

Asa yang Terbelenggu Tradisi Feodalisme[1]

Oleh: Hafidh Ayatilah A[2] 

"Sastra menjadi kekuatan bagi mereka yang sama sekali tidak mempunyai kebebasan dan kekuasaan. Maka, hanya dengan mengarang lah Kartini bisa menunjukkan kekuatannya.”
-Pramoedya Ananta Toer-      

Panggil Aku Kartini SajaPramoedya Ananta ToerLentera Dipatara , 2006301 halaman
Latar belakang dari novel ini merupakan suatu biografi kartini, yang menjelaskan garis leluhur keturunannya, kelahiran seorang “Kartini”, pendidikannya, sampai dengan perjuangan-perjuangan dan karya-karyanya. Narasi yang menggambarkan Kartini mengalami konflik kekeluargaan, dimana ia harus memilih antara ayah atau ibunya. ‘Kecintaannya’  lebih besar ditaruh pada sang ayahanda sehingga apapun ia lakukan demi membuat ayahnya senang, dengan membuat lukisan-lukisan sampai menulis sebuah karya sastra. Novel ini juga mengandung ide-ide dari seorang Kartini dalam perjuangannya yang membela kaum wanita dari kekalnya tradisi feodalisme yang memandang rendah kaum wanita. Belum lagi para wanita yang berasal dari rakyat jelata. Beruntungnya Kartini terlahir sebagai anak keturunan priyayi.
Secara gamblang dalam novel Pram ini, mengurai persoalan stratifikasi sosial yang sangat mencolok akibat adanya feodalisme. Pram yang menulis novel ini pada masa Demokrasi Terpimpin atau pada era Soekarno, dimana pada masa ini ada niatan untuk menghapuskan mental feodalisme dan dekolonisasi dalam masyarakat. Sehingga untuk itu Pram mengharapkan hadirnya gagasan tersebut disambut dengan tumbuhnya sifat nasionalisme pada masyarakat.
Saya akan sedikit mengulas ulang tentang isi dari Novel ini. Pemberontakan Diponegoro yang berhasil dipatahkan belanda, mengakibatkan banyak nyawa yang melayang serta banyaknya harta benda yang terkuras dari kedua belah pihak. Tak ayal perang ini adalah perang termahal dalam catatan sejarah penjajahan Belanda, hal inipun menyebabkan nilai uang jatuh yang disebabkan karena kebangkrutan De Javasche Bank yang waktu itu baru didirikan. Situasi ini membuat Belanda menghadirkan sosok Johanes Van Den Bosch pada tahun 1830. Van Den Bosch yang merupakam pensiunan Komisaris Jendral Hindia Barat, menawarkan kepada raja Willem rencana Cultuurstelsel.
Pada konsep yang ditawarkan itu, tidak terlihat kekejian yang Van Den Bosch rencanakan tetapi saat ia datang ke tanah Jawa semua berubah sangat drastis. Ia mulai lebih keras menghisap kekayaan bumi dan tenaga manusia Pribumi dan menyebabkan surutnya harga dari manusia Pribumi. Menurut rencananya, penduduk bila menghendaki, boleh menanami seperlima dari tanahnya dengan tanaman- tanaman yang dikehendaki oleh Gubernemen yaitu nila, gula, kopi dan tembakau yang hasilnya dapat diserahkan kepada pemerintahan dengan “harga pasar”, dan dengan itu tanah mereka bebas dari pajak bumi, pada prakteknya dibeberapa tempat tetap ada oknum yang mengambil paksa pajak bumi tersebut.
Semua perlakuan tanam paksa itu terus berlangsung hingga saaat Golongan liberal mulai mendesak akan penghapusan tanam paksa tersebut. Mereka itulah, Multatuli dengan karyanya Max Havelaar, E.S.W. Roorda van Eisinga alias Sentot dan juga yang tidak kalah penting yaitu Dr. Ds. Baron van Hoevell yang meskipun berpihak kepada tanam paksa tetapi di kalangan pendidikan ia merupakan pelopor golongan liberal. Untuk pertama kali dalam sejarah penjajahan di Indonesia orang mempergunakan kata “modern”. Faktanya penjajahan pada waktu itu mulai menjadi intensif, menjadi modern, karena perkembangan negara induk penjajah sendiri.
Kaum liberalis ini adalah orang yang mulai melepaskan diri dari cengkraman feodalisme, menjadi dirinya, yaitu demokrasi. Golongan ini menghendaki kelonggaran-kelonggaran dari cengkraman feodal, birokrasi dan diktator hierarki kepegawaian. Akibat adanya golongan ini banyak terjadi perubahan dari pemerintahan Hindia Belanda, tanam paksa yang semula di tekan lambat laun dilepas terkecuali bagi tebu dan kopi. Multatuli yang melawan tanam paksa menjadi penganjur “kerja merdeka”, dengan itu maka petani-petani menjadi terlantung-lantung dan dengan demikian munculah kelas proletar untuk pertama kali di Indonesia, dan salah seorang proletar adalah Madirono, mandor pabrik gula, bapak Ngasirah, Kakek Kartini. Demam kapitalisme merambah luas, dengan ditemukannya mesin-mesin, dibangunnya pelabuhan samudra yang berlangsung sekitar tahun 1877 semua menjadi sangat mudah. Tetapi tetap saja semua itu tidak mengubah sedikitpun kondisi masyarakat miskin di Jawa.
Pada saat kelaparan melanda Demak dan Grobogan diangkatlah seorang Bupati yaitu Ario Tjondronegoro. Dimana sebelumnya Ario Tjondronegoro adalah Bupati di Kudus residensi Jepara, setelah ia diangkat menjadi bupati pada 1850, tidak dikabarkan lagi adanya kelaparan yang melanda daerah tersebut. Bagaimana tanggapan ia tentang tanam paksa tidak jelas, tetapi yang pasti ia sangat iba melihat rakyatnya menderita dan kelaparan. Apa daya, ia hanya seorang Bupati, tetapi ia adalah seorang Pribumi yang bisa dikatakan berfikir jauh tentang semua kolonialisme dan perang-perang pemberontakan yang sudah terjadi sebelumnya. Dalam usaha membela rakyatnya ia hanya bisa mengirimkan nota kepada pemerintahan Hindia Belanda pusat, isi dari laporan itu adalah laporan-laporan dan keluhan. Karena notanya itu pula setelah 2 tahun ia menjabat ia mendapat gelar “Pangeran” dari Hindia Belanda karena jasa jasanya dalam memakmurkan daerahnya.
Melalui cara berfikirnya Ario Tjondronegoro pun dapat melihat perbedaan antara penjajah dan yang dijajah yang secara garis besar adalah dari faktor kemajuan, semangat modern dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu ia mulai membekali anak-anaknya dengan pengetahuan bahasa Belanda, karena pada waktu itu pengetahuan tentang bahasa bisa dibilang nol. Hanya ada beberapa Bupati yang menguasa baca dan tulis bahasa Belanda yang antara lain yaitu paman Kartini Pangeran Ario Hadiningrat, ayah Kartini R.M.A Ario Sosroningrat dan sisanya Bupati Cirebon yang sedikit mendapatkan didikan.
Keluarga Kartini bisa dibilang keluarga yang terdidik karena sempat mendapat ilmu dari guru rumahan dari Belanda. Kartini adalah sosok orang yang sangat menghargai leluhurnya dengan cara mengingat dan menceritakan asal muasal leluhurnya dan tak kalah penting hubungan Kartini dengan leluhurnya pun diwarisinya dengan ciri fisik yang ada di tubuhnya baik itu dari ayahnya, ibunya maupun dari kakeknya. Masa Kartini kecil tidak dapat diketahui secara keseluruhan baik itu tempat kelahirannya maupun siapa yang mengasuhnya selama ia masih balita, tetapi banyak hipotesis yang diajukan yaitu bahwa ia diasuh oleh ibunya, diasuh oleh seorang emban, bahkan dugaan ia diasuh oleh ibu tirinya. Tetapi apapun hasil dan dugaan itu yang pasti ada semacam konflik dalam keluarga Kartni, karena dalam surat-surat yang ditujukan kepada Estella Zeehandelaar isinya dapat digambarkan seseorang yang sedang mengalami konflik jiwa yang sangat luar biasa. Sekiranya seperti itulah sedikit penjabaran dari isi novel ini.
Tanggapan saya tentang novel ini cukup sederhana, novel karangan Pramoedya Ananta Toer ini cukup memberikan informasi dan narasi umum yang berguna sekali terhadap materi untuk pembelajaran sejarah, disamping penjelasan yang sangat rinci dari isi ataupun biografi seorang Kartini. Dalam penulisan buku ini, penulis menggunakan bahasa yang cukup mudah dicerna oleh kalangan mana saja karena bahasa yang digunakan adalah bahasa pergaulan atau yang sehari hari digunakan oleh orang banyak. Novel ini sangat berhasil menyajikan alur cerita yang menarik bagi para pembacanya. Melalui bahasa yang populer dan nilai-nilai humanisme yang  membuat pembaca secara tidak sadar sedang mempelajari sejarah pada setiap narasi novel ini, karena Pram menyelipkan unsur pengetahuan dengan menonjolkan daya tarik dari alurnya.



[1] Resensi ini juga merupakan salah satu syarat memenuhi tugas mata kuliah dasar-dasar filsafat yang diampu oleh Dra. Budiarti, M.Pd. (Naskah ini sudah mengalami proses editing)
[2] Mahasiswa Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Jakarta tahun masuk 2014. Mengambil konsentrasi pendidikan sejarah, NIM. 4415140886, Line: linkenspr



Wednesday, 28 January 2015

Pesta Literasi Akhir Tahun

BEDAH BUKU "PANDUAN KOTA-KOTA PUSAKA DI INDONESIA"
dalam Rangkaian Acara Pesta Literasi Akhir Tahun#PLAT2014
9 Desember 2014 di RSG FIS-UNJ



Buku ini merupakan Guide Book yang memiliki berbagai sudut pandang menarik melihat sembilan kota pusaka di Indonesia. ditulis oleh Emile Leushuis seorang warga negara berkebangsaan Belanda yang berlatar belakang Ilmu Geografi namun ketertarikannya terhadap Pariwisata membawa ia ke Indonesia dan menulis buku tersebut.







Suasana Acara Bedah Buku Berlangsung
9 Desember 2014 di RSG FIS-UNJ

Penulis Emile Leushuis sedang memaparkan penjelasan (kiri)
9 Desember 2014 di RSG FIS-UNJ

dari kiri ke kanan;
Emile Leushuis (Penulis Buku), Bara Prastama (Moderator), Moh.Shobbirien (Dosen D3 Pariwisata)
9 Desember 2014 di RSG FIS-UNJ

Andre salah Audiens bertanya kepada para pembicara

Tyo Prakoso salah Audiens bertanya kepada para pembicara

Penulis: Emile Leushuis

Para pembicara memberikan jawaban kepada Audiens yang bertanya

Friday, 23 January 2015

Jual Buku Selalu Diskon 10-15 %

PENERBIT OMBAK



PENERBIT YOI (Yayasan Obor Indonesia)






Jelajah Literasi


bersama "KOMUNITAS KANDANG BUKU"

Rancangan Perjalanan:
Sabtu, Janurari 2015

07.00-08.00 : Meeting Point di Komunitas Kandang Buku Jl. Rawamangun Muka Selatan atau @UNJ, jakarta timur  
sekalian absen dan regist ulang
08.00 -12.30 : Perjalanan menuju to Cianjur via tol Jagorawi
12.30-13.30 : Istirahat, Sholat,Makan Siang, dan Ngopi @Cianjur
13.30-14.30 : melanjutkan perjalanan ke Gn. Padang
14.30-17.30 : Exploration and Hunting in Gunung Padang Heritage (Photo, Wawancara Masyarakat, Menulis Cerita 
dsbg)
17.30-18.00 : Bersiap perjalanan kembali ke Jakarta
18.00-19.30 : Perjalanan pulang Jakarta
19:30-20:00 : Mampir Ngopi dan Makan Malam di Mang Idi Cibodas
20.00-21.30 : lanjut pulang ke Jakarta
21:30- : Tiba di Meeting point Rawamangun Tercinta, see u en bye-bye

PRICE IDR 150,000/Orang
*DP IDR 50,000
=========================
Price Include:
1. Transportasi Private bus (FULL AC,TV,DVD,AUDIO,Charge Hp only)
2. Tips Supir, Tol, dan parkir
3. Konsumsi 2x
4. Retribusi tiket Gn.Padang
5. Dokumentasi with DSLR
6 Tour Guide yang Kece
7. Dapet pengalaman, peng'amanan' dan kehangatan hehe
9. Lokal Guide

Exclude:
1. Biaya Lain diluar Fasilitas
2. Obat-Obatan Pribadi
3. Tips Lokal Guide (sukarela aja)
=================================================
Barang Pribadi yang disarankan untuk dibawa :
- Payung/Raincoat
- Obat2an pribadi
- Snack2/Roti
- Sandal/sepatu yg nyaman buat traveling aja
- Jaket dingin...minimal sarung
- Baju ganti takut klo ujan basah kuyub atau tiba-tiba mau nginep di Gn. Padang
- Pelengkapan mandi sama shalat *buat yg muslim*
- Kaca Mata Hitam biar keren pas Foto
- Camera
- Handphone *merk dan jenis apapun*
- Powerbank dan Tongsis *teknologi terpopuler abad ini
=========================
Contact Person
1. Hafid
ID Line: linkenspr

2. Bara
BBM 7de7ec9a
Whatsapp 08984111680
=========================
PERSYARATAN DAN KETENTUAN
Ketentuan Peserta:
1. Minimal keberangkatan 7 Pax, Maksimal 30 pax (dibawah 7 peserta tujuan akan pindah ke warung padang)
2. Usia peserta minimal 12 tahun, dibawah 12 tahun harap didamping wali/ortu, takutnya ini anak ga ada yg ngakuin  
*hiks
3. Ketika trip dalam kondisi yang sehat dan prima karena nanti akan berpengaruh sama hasil fotonya
4. tidak mempunyai riwayat penyakit yang membahayakan bagi diri sendiri atau orang lain...semisal sakit 'kanibal' *kan 
serem jalan-jalan cemilannya daging manusia
5. Pembatalan dikarenakan kuota tidak terpenuhi akan ada pengembalian uang DP 100%...klo bisa ya ikhlasin aja
6. Pembatalan dari pihak peserta di hari H, maka uang DP hangus dan peserta lain nomboikin sisanya *hiks
7. Pembayaran DP sebesar IDR 50,000, setelah namanya di update di daftar list peserta melalui akun fb/twitter 
@kandangbuku
8. Setelah melakukan transfer HARAP segera konfirmasi ke contact person, bukti transfer di simpan, difoto dan dikirim 
via Email/BB/WA.
9. Panitia berhak membatalkan trip dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, dan uang DP peserta akan 
dikembalikan 100%...atau mau dipindah makan di warung padang bareng-bareng?
10. Semua peserta yang sudah booking dan ikut JELAJAH LITERASI bersama Komunitas Kandang Buku dianggap 
mengerti dan menyetujui semua ketentuan di atas, dan tidak melakukan tuntutan yang lebai, kalau ga ngerti...nanti 
dikasih pengertian lebih deh...
=========================
Peserta yang akan mendaftar bisa mentransfer DP ke rekening :
BNI a/n Bara Prastama 0133099009
BCA a/n Bara Prastama 4768046920
atau langsung main aja ke sekertariat komunitas ^^

(sebelum transfer atau sesudah transfer mohon konfirmasi ke nomor di atas)

Wednesday, 21 January 2015

Luruh Membaca Pram

Sebuah Kisah Tentang Pengalaman Membaca

Oleh: Abdul Hakim[1]

     Tulisan ini adalah cerita tentang pengalaman saya dalam membaca. Bila ada sebuah kategori saya mungkin termasuk dalam kategori yang sedikit membaca, tetapi memiliki keinginan yang kuat untuk terus membaca. Pengalaman yang ingin saya ceritakan di sini adalah ketika saya membaca karya-karya salah satu penulis besar yang dimiliki oleh Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (Bung Pram). Saya yakin banyak khalayak yang sudah jauh lebih mengenal Pram dan lebih fasih berbicara bahkan menuliskan tentang Pram dan karyanya. Lagi-lagi di sini saya tekankan ini hanya cerita tentang pengalaman saya tentang membaca.

**

Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu penulis terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Lahir di Blora, Pram tumbuh, berkembang dan mendedikasikan hidupnya untuk menulis. Pram juga menjadi penulis Indonesia yang karyanya begitu banyak diapresiasi dalam beberapa penghargaan, di antaranya adalah Freedom to Write Award dari PEN Amerika Center, Ramon Magsaysay Award, Filipina, Wertheim Award, UNESCO Madanjeet Singh Prize, Fukuoka Cultural Grand Prize, dan masih banyak yang lainnya. Namanya masuk dalam nominasi pemenang Nobel Sastra, karya-karyanya juga telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa.
       Pram juga luruh dalam pergumulan politik, tentu sebagai reaksi dari tulisannya yang dianggap provokatif. Karyanya yang proaktif dalam pergumulan politik membuat dirinya seringkali menghadapi kerasnya kekuasaan, dan merasakan penjara juga pengasingan. Pengalaman terparah Pram tentu ketika ia diasingkan di Pulau Buru, pasca peristiwa 1965, namun kepiawaian dan kreativitasnya dalam menulis tidaklah lenyap karena penjara atau pengasingan, ia tetap berkarya dan terus berkarya.
   Tajamnya pena sang sastrawan dunia dalam melahirkan karya-karyanya yang relalis sosial, cukup membuat penguasa  gerah. Kekejaman penguasa, lantas membuat Pram menghadapi penderitaan. Kala seluruh bangsa ini menderita karena sebuah otoriter penguasa, Pram pun ikut menderita, karena selain diasingkan, karyanya banyak diberangus, terlebih lagi selama pengasingannya Pram tidak difasilitasi untuk menulis. Hal ini menyebabkan generasi bangsa Indonesia hari ini kehilangan ingatan kolektif tentang Pram dan sekian banyak buah karya salah satu putera terbaik bangsa Indonesia, karena sikap represif penguasa.
    Beruntung masih cukup banyak karya Pram yang terselamatkan, sempat tercetak, dan dicetak ulang sehingga masih kita nikmati. Dari karya-karya tersebut dapat kita rasakan semangat yang membara yang serta-merta dapat menular ke dalam diri kita. Karya-karya Pram bukan saja indah alur cerita dan penulisannya tetapi juga sarat akan nilai yang mendidik bangsa ini, menyadarkan kita akan persoalan yang dialami masyarakat. Nilai-nilai realisme sosial yang terkandung masih sangat relevan dengan kondisi kekinian.
Dalam Roman Gadis Pantai[2] misalnya, Pram dengan balutan narasi indah nan menggugah mampu memberikan suatu kritik menukik tajam langsung ke jantung feodalisme, yang amat disayangkan masih hidup di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ia dengan fasih dan tentu memberikan kritik tajam dengan melukiskan kondisi yang dialami masyarakat Jawa yang feodal. Ia menggambarkan bagaimana dilema pemikiran seorang gadis pantai memasuki dan mengenal realisme sosial yang feodalistik, terkungkung dan tidak merdeka. Hari-hari dipenuhi dengan ketakutan, ketakutan akan orang-orang yang punya kuasa. Gadis Pantai yang lugu melihat realitas kehidupan tersebut, di mana “orang kebanyakan” harus menerima nasibnya sebagai sahaya, sebagai orang yang mengabdi dan menuruti kemauan penguasa, orang kebanyakan yang bahkan tidak punya hak atas tubuh mereka.
       Dalam pergumulan pemikiran Gadis Pantai dalam melihat realitas tersebut, terasa muatan pemikiran dan kritik Pram terhadap feodalisme. Mempertanyakan mengapa ada orang yang menjadi sahaya bagi orang yang lainnya? mengapa orang rendahan selalu bernasib bertimpakan kemalangan? Satu kalimat kritik akan feodalisme yang masih terasa dalam masyarakat kekinian terbungkus dalam percakapan antara Gadis Pantai dan Perempuan tua yang menjadi sahayanya.
Mas Nganten masih ingat cerita sahaya tentang kakek sahaya yang ikut berontak bersama Pangeran Diponegoro? Ya, Mas Nganten masih ingat, bukan? Seorang penewu pernah mengurniainya wejangan: Kau tidak mengabdi kepadaku Man, tidak Man! Kalau kau Cuma mengabdi kepadaku, kalau aku tewas dan kau tinggal hidup, kau mengabdi kepada siapa lagi? Kau cari bendoro baru, kalau dia juga tewas? Tidak, man, tidak. Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air. Tapi para raja dan para pangeran dan para bupati sudah jual tanah keramat ini pada Belanda. Kau hanya baru sampai melawan para raja, para pangeran, dan para Bupati. Satu turunan tidak bakal selesai, man. Kalau para raja, pangeran dan bupati sudah dikalahkan, baru kau bisa berhadapan dengan Belanda. Entah Berapa turunan lagi. Tapi, kerja itu mesti dimulai.[3]
   Kutipan paragraf tersebut sangatlah terasa kegelisahan akan kondisi bangsa pada masa tersebut. Pada masa kolonial di mana masyarakat Indonesia hidup dalam nuansa feodalistis. Feodalisme yang sangat menghambat kemajuan bangsa Indonesia untuk lepas dari belenggu penjajahan bangsa Barat. Hingga kini, pada masyarakat kita feodalisme belumlah luntur. Kita masih merasakan nuansa feodalisme dengan balutan yang berbeda (neofeodalisme). Jikalau dahulu kita melihat feodalisme yang memberikan jurang pemisah antara kalangan priyayi dan orang kebanyakan, kini kita melihat nuansa feodalisme di dalam masyarakat yang terpisah antara yang punya kekuasaan (kekayaan dan jabatan) dengan kaum papa dan pegawai rendahan.
Pentingnya membaca karya-karya Pram adalah sebagai bahan refleksi diri tentang nilai kehidupan. Sekaligus untuk membuka cakrawala pemikiran kita akan situasi masyarakat yang membelenggu kaki, tangan, dan mulut kita untuk mencapai kemajuan, serta pikiran yang utama memberikan semangat untuk membebaskan diri kita dari belenggu tersebut.
     Membaca karya-karya Pram memang bukan hanya perkara melihat keindahan alur cerita yang dibuatnya, membaca karya Pram berarti kita mewarisi semangat yang ia tuangkan dalam karyanya. Semangat dalam mendidik bangsa yang luruh dalam nuansa feodalistis, semangat dalam menghancurkan segala bentuk feodalisme yang mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia.
   Beruntung kita generasi milenium masih bisa menikmati era kebebasan saat ini, tidak seperti Zaman Kolonial ataupun ORBA di mana kita tidak dibebaskan untuk membaca segala hal yang dianggap provokatif dan dapat mengganggu stabilitas. Dan menjadi lebih disayangkan lagi adalah ketika kita menjadi generasi yang masuk dalam kebebasan membaca dan berpendapat kita malah malas untuk membaca atau menulis. Sayang sekali kondisi masyarakat Indonesia masih sangatlah minimminat baca dan tulis. Sayang sekali ketika kita tidak memiliki hasrat dan dahaga akan pengetahuan. Padahal dengan membaca, menurut saya pribadi, bukan hanya pengetahuan yaang kita dapat, tetapi juga sebuah semangat, sebuah semangat yang menggebu-gebu untuk terus membaca, karena bagi saya dengan membaca kita menjadi tahu, tahu akan ketidaktahuan kita.
     Itulah secuil pengalaman yang saya dapatkan ketika saya membaca, dan saya merasa sangat beruntung masih diberikan kesadaran akan kurangnya saya membaca, kesadaran akan pentingnya membaca, kesadaran akan asyiknya membaca, dan kesadaran akan nikmatnya letupan semangat kala membaca. Melalui pengalaman ini, saya ingin menceritakan apa yang saya rasakan dan berharap Anda sekalian juga merasakan apa yang saya rasakan ketika membaca.
Mari membaca, kawan!



[1] Alumni Sejarah Universitas Negeri Jakarta
[2] Gadis Pantai adalah Roman yang tidak selesai, sebenarnya Gadis Pantai merupakan trilogi. Namun, dikarenakan kekejaman tangan kekuasaan, dua lanjutan roman ini harus hangus terbakar oleh keburukan dan kepicikan penguasa Orde Baru.
[3] Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai, (Jakarta : Lentera Dipantara, 2007), hal. 120-121