Wednesday, 21 January 2015

Berbudaya Menuju Panggung Politik

Kusumo Digdoyo -- Njoto;
‘Berbudaya Menuju Panggung Politik’
Oleh : Azis Muhammad Benazir
“Politik tanpa kebudayaan masih bisa jalan, tetapi kebudayaan tanpa politik tidak… Sekali lagi kawan, politik itu penting sekali. Jika kita menghindarinya, kita akan digilas mati olehnya. Karena itu dalam hal apa pun dan kapan saja pun, politik harus menuntun segala kegiatan kita: Politik adalah Panglima.” –Njoto, 1927-1966(dinyatakan hilang) –


Masyarakat awam tidak lah familiar dengan nama Kusumo Digdoyo[1] dalam sejarah perpolitikan Indonesia ataupun hal yang berkaitan dengan PKI. Keterkaitannya dengan PKI lebih dikenal secara luas sebagai Wakil Ketua II CC PKI dengan  nama  Njoto. Namanya lekat sekali dengan Harian Rakjat dimana dirinya menjadi salah seorang pemimpin redaksi sekaligus ‘pengisi rutin’ kolom Catatan Seorang Publisis. Njoto juga menjadi salah seorang Pimpinan Pusat Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA).[2] Sulung dari tiga bersaudara ini terlahir dari pasangan Raden Sosro Hartono dan Malsamah pada 17 Januari 1927 di Jember. Ayahnya, Raden Sosro merupakan keturunan bangsawan dari Solo yang kemudian mengembangkan usaha batik, jamu, dan segala kebutuhan pakain Jawa lainya di daerah Bondowoso, Jawa Timur. Njoto lahir dalam masa yang ‘radikal’ dalam periode ‘pergerakan’ rakyat-terutama buruh-dalam membela hak-haknya.[3] Dalam masa itu Raden Sosro seringkali menerima kunjungan-kunjungan dari kawannya yang eks-Digul di toko batik miliknya, selain itu Raden Sosro juga sering mengadakan rapat di tempat tersebut.[4]

JALAN MENUJU PANGGUNG POLITIK
Sejak kecil Njoto berpembawaan serius seperti bapaknya. Hobinya pun membaca, seperti yang ditekankan oleh Raden Sosro, yang mewanti-wanti anak-anaknya agar rajin membaca dan bukannya keluyuran. Saat bersekolah di HIS, Njoto tinggal bersama kakek dan nenek dari pihak ibu di Kampung Tempean, Jember. Adiknya, Sri Windarti, turut serta karena Raden Sosro ingin anak-anaknya bisa belajar di sekolah Belanda, yang jauh lebih tinggi kurikulumnya. Pertimbangan itu karena sekolah rakyat pada masa itu hanya mengajarkan calistung untuk orang pribumi kebanyakan belum lagi lokasinya yang jauh di Bondowoso, sekitar 30 kilometer utara Jember. Setamat HIS, Njoto melanjutkan sekolahnya ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) merupakan sekolah setingkat menengah pertama, di Jember. Nyoto bisa masuk sekolah itu tanpa tes namun, cukup disayangkan ketika tentara pendudukan Jepang datang sekolah Belanda ini tutup. Sang bapak, yang membaca situasi darurat masih akan lama, memindahkan sekolah kedua anaknya itu ke MULO yang dibuka Jepang di Solo, Jawa Tengah. Di kota batik inilah kakek dan nenek dari pihak bapak tinggal.[5]
Njoto muda sudah akrab dengan pemikir-pemikir yang menjadi kiblat pejuang revolusi, seperti Marx, Stalin, Lenin melalui karya-karya mereka. Ketika itu Njoto masih duduk di bangku Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), semacam sekolah menengah pertama di Solo, Jawa Tengah, tanpa ada seorang pun yang mengarahkannya membaca buku-buku tersebut.[6] Masa muda yang ia habiskan dengan buku-buku pemikir revolusioner dan ia tunagkan dalam tulisan, serta dekatnya rekam jejak dari kerabat ayahnya membawanya perlahan masuk kedalam pentas politik nasional. Menginjak usia 16 tahun menurut Joesoef  Isak, Njoto menjadi perwakilan PKI Banyuwangi untuk Komite Nasional Indonesia Pusat, tanpa kejelasan kapan  ia mulai masuk partai dan siapa yang mempengaruhinya. Pemuda-pemuda yang lebih progressive di Partai Komunis Indonesia ketika itu  berhasil menggusur pemimpin sepuh, seperti Tan Ling Djie, Alimin, Wikana, dan Ngadiman Hardjosubroto, serta mengambil alih kepemimpinan partai. Aidit menjabat Ketua, Lukman menduduki posisi Wakil Ketua I, Njoto sebagai Wakil Ketua II, dan Sudisman mengisi kursi Sekretaris Jenderal. Sebagai Wakil Ketua II, Njoto bertanggung jawab atas Departemen Agitasi dan Propaganda. Lewat surat kabar ‘Harian Rakjat’ yang embrionya berasal dari majalah  teori Bintang Merah, Njoto menghidupkan kembali PKI dan ‘menghajar’ lawan-lawan politiknya. Sebaliknya, lewat kolom ‘Catatan Seorang Publisis’ di Harian Rakjat, Iramani nama pena Njoto tampil lebih lembut dan ‘sastrawi’.

PERJUANGAN REVOLUSI BUDAYA
Selain sebagai politisi Njoto juga berperan aktif sebagai pegiat seni.[7] Pada 17 Agutus 1950 Njoto bersama 15 seniman yang menyebut dirinya sebagai pekerja kebudayaan-termasuk Aidit,  mendirikan LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) di Jakarta sebagai suatu bentuk jawaban  terhadap Revolusi Agutus 1945 yang menurut Ir. Soekarno belumlah selesai. Naskah proklamasi berdirinya organisasi ini yang selanjutnya disebut Mukadimah[8] dibuka dengan pernyataan keras Revolusi Agustus 1945. Proklamasi, revolusi yang diyakini LEKRA sebagai revolusi seluruh rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaan dari penjajahan, secara politis ekonomi dan kultural. Setelah lima tahun dianggap telah gagal, dihambat oleh ‘perjuangan diplomasi’ yang dinilai meniadakan perjuangan dan pengorbanan rakyat selama Revolusi Agutus 1945.[9] Dalam laporannya pada kongres pertamanya di Solo, Sekretaris Umum LEKRA Joebaar Ajoeb menyatakan:

“Demikianlah, LEKRA didirikan 5 tahun sesudah Revolusi Agustsus pecah, di saat revolusi tertahan oleh rintangan hebat yang berujud persetujuan KMB, jadi, di saat garis revolusi sedang menurun. LEKRA didirikan untuk turut mencegah kemerosotan lebih lanjut garis revolusi, karena kita sadar, karena tugas ini bukan hanya tugas politisi, tetapi juga pekerja-pekerja kebudayaan. LEKRA didirikan untuk menghimpun kekuatan yang taat dan teguh mendukung revolusi.”[10]
Dalam hal ini Njoto sebagai bagian dari LEKRA ikut menyuarakan betapa pentingnya kebudayaan bagi ‘Indonesia baru’, kegagalan Revolusi Agustus 1945 yang dibicarakan dalam Mukadimah, akan membawa kembali penjajahan  dalam bentuk barunya, berwujud kebudayaan yang bersifat feodal dan imprealis (budaya Barat). Kebudayaan yang selama ini melahirkan jiwa pengecut dan penakut, serta merasa tidak mampu melakukan apapun dalam rakyat Indonesia. Segenap pendiri LEKRA melihat setelah lima tahun proklamasi kemerdekaan, secara mental dan budaya rakyat belumlah merdeka. Revolusi harus diselesaikan dengan jalan meruntuhkan kebudayaan feodal dan menggantinya dengan kebudayaan yang demokratis dan bersifat kerakyatan dan hasil-hasil kebudayaan berasal dari rakyat dan bersama rakyat. Kebudayaan asing yang masuk haruslah di kritisi untuk meninggikan tingkat kebudayaan Indonesia. Mereka yang tergabung dalam LEKRA melakukan ‘perlawanan’ terhadap budaya asing-Barat. Seperti apa yang dilakukan Njoto di penghujung Desember 1954, Njoto naik mimbar di gedung bioskop Radjekwesi, Bojonegoro, Jawa Timur. Wakil Comitte Central PKI itu berbicara mengenai sikap PKI atas demoralisasi masyarakat, khususnya bagi anak-anak pelajar yang disebabkan oleh pengaruh budaya Barat.
“PKI menjokong setiap usaha jang akan memberantas demoralisasi,” kata Njoto[11], “Tidak sadja dikalangan peladjar, tetapi dikalangan manapun. Sekarang ini, tidak sedikit orang jang suka meremehkan pengaruh jang ditimbulkan oleh film2 tjabul, buku2 tjabul dan musik tjabul. Ibu2 dan bapak2, djuga guru2, lebih daripada saja tentu tahu betapa merusaknja barang2 tjabul itu bagi watak dan sifat anak2 kita.”
            Pemikiran-pemikiran Njoto dan pekerja kebudayaan rakyat yang tergabung dalam LEKRA mendapat pertentangan dari banyak pihak yang menganggap LEKRA terlalu mencerminkan komunis dan PKI, LEKRA dianggap sebagai organ PKI dan kegiatannya dirasuki oleh kepentingan -kepentingan politik.[12] Njoto membantah dan menolak pemikiran yang menganggap bahwa kebudayaan harus bersih dari politik, bahwa seniman tidak boleh berpolitik karena akan menurunkan mutu artistik karya-karyanya. Baginya politik dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan, dan belum  dibuktikan bahwa seniman yang berpolitik akan merosot mutu kesenimannya. Harian Rakjat-yang menjadi ‘microphone’ Njoto, edisi 4 Maret 1964 memuat ultimatum Njoto:
“Barang siapa masih berkata djuga bahwa seni itu “non-politik”, sesungguhnja dia itu reaksioner. Bukan saja jurnalistik, tetapi sport pun tidak bisa disangkal lagi bertautan erat sekali dengan politik. Kalau sport sudah politik, apalagi sastra dan seni”
Politik adalah Panglima, menurut Njoto dan dimunculkan sebagai azas dan dibicarakan secara khusus dam Konfernas LEKRA Agustus 1960. Politik yang dimakud  adalah politik yang maju, kerakyatan dan revolusioner, untuk membedakan dengan politik yang kolot, anti kerakyatan dan  reaksioner.[13] Njoto pulalah yang menyuarakan prinsip kerja ‘turun ke bawah’ yang semula diperuntukkan bagi pekerja-pekerja kebudayaan. Konsepsi mengenai ‘Kebudayaan Rakyat’ yang tertuang dalam Mukadimah LEKRA  merupakan buah pemikiran mereka yang menyebut diri pekerja-pekerja kebudayaan, termasuk Njoto didalamnya-yang paling berpengaruh. Njoto, melalui LEKRA, memberikan suatu rumusan mengenai pentingnya kebudayaan; dalam artiannya yang luas sebagai pondasi ‘bangunan’ kebangsaan Indonesia. Njoto mencoba kembali menyadarkan rakyat bahwa dalam sendi-sendi kehidupan, kebudayaan merupakan suatu komponen yang paling penting harus dipertahanakan. Nasionalisme dalam pandangan seniman yang pernah menjadi Menteri Negara masa Kabinet Dwikora I ini diproyeksikan melalui budaya, sebagai tindakan lanjutan Revolusi Agustus 1945.
  

[1] Kusumo Digdoyo adalah nama asli dari Njoto. Njoto merupakan anak pertama dari Raden Sosro yang dilahirkan di Jember 17 Januari 1927. Lihat Julius Poor, Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan dan Petualangan, Jakarta: PT Kompas Media Indonesia, 2010, hlm. 443.
[2] Inisiator dari LEKRA antara lain: D.N. Aidit, M.S. Ashar, A.S. Dharta, dan Njoto. Adapun anggota awal LEKRA diantaranya: M.S. Ashar, A.S. Dharta, Njoto, Henk Ngantung, Sudharnoto, Herman Arjuno, dan Joebaar Ajoeb. Lihat, Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan, LEKRA Tidak Membakar Buku, Yogyakarta: Merakesumba, 2008, hlm. 21.
[3] Pada masa–masa ini pada tahun 1926-1927 di Hindia Belanda sedang mengalami gejolak perjuangan–pemberontakan, yang dilakukan oleh banyak organisasi kerakyatan–yang mewadahi kaum buruh & tani. Salah satunya adalah PKI yang akhirnya ‘dihabisi’ oleh pemerintahan Hindia Belanda dan orang-orang yang terlibat dalam pemberontakan ini diadili langsung tanpa di bawa ke meja hijau tepatnya mereka di buang ke Boven Digoel. Lihat, Harry A Poeze,  Tan Malaka Gerakan kiri dan Revolusi Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008, hlm. 2.
[4] Raden Sosro merupakan aktivis komunis dan seorang pejuang kemerdekaan. Lihat, Julius Poor, Gerakan 30 September Pelaku, Pahlawan dan Petualangan. Jakarta: Kompas, 2010, op.cit. Ketertarikan awal Njoto terhadap Marxisme dapat diteluuri dari masa ini, sbelum akhirnya Njoto meneruskan sekolahnya ke Solo. Lihat juga, Njoto; Peniup Saxofon di Tengah Prahara, hlm. 10.
[5] Njoto; Peniup Saksofon di Tengah Prahara, Edisi Khusus Tempo. 2009, hlm. 4-5.
[6] Ibid, hlm. 10
[7] Tulisan ini tidak bermaksud mengesampingkan mengenai peran penting Njoto di HR, tapi lebih jauh kepada pemikiran-pemikiran Njoto mengenai kebudayaan yang selain tertuang dalam suara-suaranya di HR juga  terangkum dalam kegiatannya di LEKRA.
[8] Joebaar Ajoeb, 1959 ‘Perkembanan Kebudayaan Indonesia Sejak Agustus 1945 Dan Tempat Serta Peranan LEKRA Di Dalamnya’ dalam Dokumen Kongres Nasional I LEKRA, Bagian Penerbitan LEKRA, 1959, hlm. 15.
[9] Alexander Supranoto, Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965, Skripsi STF Driyarkara, Jakarta, 2000, hlm. 53.
[10] Joebaar Ajoeb, 1959 ‘Perkembanan Kebudayaan Indonesia Sejak Agustus 1945 Dan Tempat Serta Peranan LEKRA Di Dalamnya’ dalam Dokumen Kongres Nasional I LEKRA, Bagian Penerbitan LEKRA, 1959, hlm. 15.
[11] Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan , LEKRA Tak Membakar Buku (Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965) 
[12] Perdebatan mengenai kebudayaan di Indonesia sudah berlangsung cukup lama sejak munculnya gerakan Djawa Dipa 1917, Taman Siswa 1922, Pudjangga Baru 1933, dalam perdebatannya di tahap itu,  kebudayaan dimaknai secara luas tidak hanya menyoal satra dan seni saja, tapi menyangkut pula politik, pendidikan dll. Hal ini terkait bayangan para pemikir, tidak hanya dalam bidang kebudayaan, mengenai kehidupan yang demokratis dalam Indonesia yang merdeka. Ketika memasuki tahap 1960-an kebudayaan dimengerti dalam artian yang sempit; seni dan sastra. Untuk kemudian menjadi medan persaingan politik dalam artian yang juga sempit; perebutan kekuasaan.
[13] Joebaar Ajoeb, 1960 ‘Manifesto Politik dan Kebudayaan: Laporan Umum’, dalam Pleno Agustus Pimpinan Pusat LEKRA 1960, Laporan Kebudayaan Rakyat II, Jakarta, Bagian Penerbitan LEKRA, hlm. 22-24.

Daftar Pustaka
Julius Poor, 2010, Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan dan Petualangan, Jakarta: PT Kompas Media Indonesia
Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan, 2008,  LEKRA Tidak Membakar Buku, Yogyakarta: Merakesumba.
Harry A Poeze,  2008, Tan Malaka Gerakan kiri dan Revolusi Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Leclerc Jacques, 1979, Kondisi kehidupan Partai Kaum Revolusioner Indonesia Dalam
Mrencari Identitas (1928-1948). Prisma.LP3ES. Jakarta
___________________, 2009, Njoto; Peniup Saxofon di Tengah Prahara, Edisi Khusus Tempo: Orang Kiri Indonesia.
Supranoto, Alexander, 2000, Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965, Jakarta, Skripsi STF Driyarkara.
___________________, 1959, ‘Perkembanan Kebudayaan Indonesia Sejak Agustus 1945 Dan Tempat Serta Peranan LEKRA Di Dalamnya’ dalam Dokumen Kongres Nasional I LEKRA, Jakarta, Bagian Penerbitan LEKRA.
__________________, 1960, ‘Manifesto Politik dan Kebudayaan: Laporan Umum’, dalam, Laporan Kebudayaan Rakyat II, Jakarta, Bagian Penerbitan LEKRA.

Friday, 16 January 2015

Septevana

Oleh: Aziz Benazir

‘Jika kau tahu sesuatu akan berakhir buruk, sanggupkah kau mengehentikannya ketika masih terasa indah ?’

***
‘Jul, Juli’
Dalam gelap, aku dengar suara seseorang memanggilku. Senyap suara itu kudengar, maklum rasa kantuk yang luar biasa masih mendekapku. Aku baru bisa tidur ketika shubuh menjelang, rutinitas kehidupan yang begitu mengikat luar biasa menyiksaku. Tugas menumpuk, harus bekerja didepan laptop sampai larut, aku berfikir apakah yang seperti ini dinamakan dengan hidup ? Malas kulangkahkan kaki turun ke kamar mandi dari kamar indekost untuk cuci muka.

‘Hei, baru bangun’ suara yang sedari tadi memanggil menyapaku.

‘Eh iya’ jawabku singkat, belum jelas aku melihat wajahnya, kantuk masih menyergapku.

‘Sept, loh kok, kirain siapa ?’ kataku kemudian seraya membasuh wajahku dengan handuk.


‘Aku telponin hp-nya gak aktif, sms gak dibales, yasudah aku kesini.’ Senyum manisnya yang diumbar percuma membuatku tak percaya ini nyata.’Kamu mandi gih, aku naik ke atas ya’ sambungnya sambil masih tersenyum, entah senyumnya untuk siapa dan untuk apa.
‘Hehehe hp-nya mati kali, iya nanti dulu, eh, mau ngapain, masih berantakan, yaudah deh’ kataku bingung, belum selesai kalimatku Sept sudah ngeloyor ke atas, ke kamar indekostku.
Maklum sudah sekitar empat bulan aku tidak melihat wajahnya. Wajah yang sempat mengisi hari-hari ku dan kepergiannya menyisakan rindu yang meendalam. Septevana namanya, pertemuan pertama kami bisa dibilang aneh. Untuk orang seperti kami yang ‘hidup’ dalam dunia yang bisa dibilang ‘gelap’, kami berkenalan justru di masjid dalam serangkaian acara menyambut Ramadhan. Aku dan Sept berkenalan dengan cara yang juga tidak biasa, lewat sebuah novel yang mengiringi kedekatan kami. Sebulan itu kami sering melewati hari bersama, aku menjemputnya sekolah, atau sekedar menikmati jalan dan suasana malam kota Jakarta lewat sudut pandang yang berbeda. Sudut pandangku, aku menularkan pandangan-pandangan lain tentang hidup padanya, yang aku pun baru dapat sudut pandang itu dari sebuah buku filsafat.
Melalui novel yang telah aku bacalah, aku mulai ‘meracuni’ Sept untuk mulai belajar filsafat, sekaligus menemaniku mempelajarinya. Sampai aku merasa justru fikiran-fikirannya lah yang lebih maju dari pada aku dalam membahas soal hidup. Pertanyaan-pertanyaan mengalir dari bibirnya; kenapa kita ketemu, kenapa ketemunya sekarang, sampai kapan kita bisa seperti ini, kapan akan berakhir, apakah kita akan siap jika berakhir. Pertanyaan-pertanyaan itu begitu mengagetkanku, aku tidak pernah berfikir sejauh itu tentang kami. Semakin sering kami bersama kami mulai saling mengenal satu sama lain. Belakangan aku dipertemukan dengan teman dekatnya yang ternyata teman dekatku juga semasa sekolah menengah, kemudian aku juga tahu kalau temanku ternyata sepupunya, dan lain-lain yang rasanya ada yang aneh tentang kami. Ternyata Sept juga merasakan keanehan tersebut bahkan dikaitkan dengan pertanyaan filosofis dari novel yang kuberikan, Dunia Sophie. itulah yang kami bincangkan sehari-harinya.
‘Mungkin gak sih kalu kita pernah ketemu sebelumnya’
Aku tahu maksud kata ‘sebelumnya’ ini bukan dalam artian sebenarnya. Lagi-lagi aku dikagetkan dengan fikiran-fikiran Sept yang selalu mengejutkanku. Entah hanya aku yang merasa atau dia juga merasakan hal yang sama denganku, yang jelas buatku,

aku nyaman ketika senyumnya ada disampingku. Walau mungkin senyum itu bukan buatku. Cinta mengiringi kebersaman kami, dalam diriku tentu, dirinya, aku tak tahu. Lalu aku ingat bahwa kami punya kesepakatan, jangan sampai cinta diantara kami terjatuh. Tapi aku termakan sendiri ucapanku, perasaan ini semakin deras mengalir dalam fikiranku, hatiku ? entahlah, aku tak tahu, mungkin.
‘Jangan biarin perasaan itu mempengaruhi kamu.’
Aku masih ingat kata-katanya yang satu itu, anehnya aku tidak merasa sakit hati mendengarnya mengatakan hal itu, aku justru senang. Aneh. Setelah hari itu kami menjauh, dijerat dan ditarik kembali oleh kesibukan masing-masing. Entah dia atau aku yang memulai, pokoknya kami menjadi jauh. Awalnya aku masih menghubunginya, sesekali menanyakan kabar sekedar basa-basi dan mencairkan juga membalikkan suasana seperti dulu, sayangnya sudah tidak sama lagi seperti dulu. Aku katakan padanya aku sedih dengan keadaan ini.
‘Kan aku pernah ingatkan, jangan biarin perasaan itu mempengaruhi kamu.’ komentarnya.
Hari-hari terus berjalan, begitu pun kami yang tak lagi beriringan, meski sesekali kami bertegur suara. Sampai sekitar sebulan yang lalu dia mengutarakan keinginannya untuk bertemu ketika kami bertukar suara lewat handphone. Sept bercerita tentang cintanya yang jatuh, oleh temanku yang juga temannya, padahal sudah kuingatkan dia. Kemudian kita banyak bicara mengenang sedikit yang pernah terjadi diantara kami. Tentang kegiatannya, kegiatanku dan, obrolan panjang itu diakhiri oleh suara tegas seorang perempuan paruh baya yang mengingatkan pulsaku sudah habis. Lalu kami ditarik kembali oleh beban kehidupan masing-masing. Kemudian saling melupakan, dia, mungkin, tapi tidak denganku. Terakhir aku mendapat pesan singkatnya ‘Jul, dimana’, lalu aku kehilangan kontaknya beberapa minggu lalu. Dan kini dia menyambangi indekost ku pagi-pagi buta, dalam jam ku, karena tidur saja baru ku lakukan shubuh tadi.
‘Kebo banget sih, jam segini baru bangun’ ucapnya sambil memandangiku.
‘Kamu gemukan deh Sept’ kataku tak menggubris komentarnya tentang waktu bangunku yang kelewatan siang.
‘Apa sih orang enggak, ini malah kurusan’ balasnya.
‘Kurus segini, gemuk semana ?’ aku menimpali
‘Eh, mau ngapain deh kamu kesini, aku kira aku tadi masih mimpi , ada yang manggil-manggil gitu, eh ternyata kamu’ kataku selanjutnya.
‘Kenapa emang, gak boleh ?’ ucapnya sambil kembali memandangiku.
Aku yang dipandangi menjadi salah tingkah, apa lagi dib alas bertanya seperti itu. ‘Mm, boleh sih tapi kan, yah kamu kan udah lama gak, mm…’ jawabku bingung.
‘Ke taman yuk, aku pengen kesana deh’ potongnya sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku.
‘Hah, ayuk deh’ kataku seraya mengambil bolpoint dari sebelah kasur yang belum sempat kubenahi. Lalu kutulis dalam catatanku hari itu.
‘Hidup itu memang menyedihkan dan serius. Kita dibiarkan memasuki dunia yang indah, kita bertemu satu sama lain disini, saling menyapa dan berkelana bersama untuk sejenak. Lalu, kita saling kehilangan dan lenyap dengan cara yang sama mendadaknya dan sama tidak masuk akalnya seperti ketika kita datang.’ –Joestin Gaarder, Dunia Sophie.
Siang itu tidak aku fikirkan apa yang akan kulakukan selanjutnya terkait perasaanku padanya yang belum jatuh. Percuma saja aku merencanakan segala sesuatu.
Manusia seperti apapun bentuk fikirannya, sulit, kalau tidak bisa dibilang tidak punya kesempatan, untuk memiliki ‘kehendak bebas’-nya sendiri, karena bagaimanapun Tuhan lah yang mengatur bagaimana manusia hidup, tumbuh dan berkembang serta segala macam hal yang mengiringi proses tersebut. Meskipun dalam kitab suci disebutkan bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib manusia selama manusia itu tidak mau merubahnya, tetap saja Tuhan lah yang punya kuasa untuk merubah segala-gala hal yang ada dalam kehidupan.

***

Monday, 5 January 2015

Soetomo: Dari Etno-sentris Menuju Nasion-sentris


Oleh F. X. Domini B. B. Hera

“...mengingat poela oentoek dan sifat jang specipiek dari masjarakat Indonesia, jalah jang masih berdasar atas adat dan kemaoean tolong-menolong dari orang-orang poeteranja, maka oesaha jang paling gampang dan baik oentoek mengganti dan memperbaiki masjarakat itoe kira-kira jalah jang didasarkan atas adat dan kebiasaan jang soedah ada itoe, hanja sadja dibaharoekan, dibikin modern, dan diatoer dengan pengetahoean, artinja membangoenkan masjarakat atas dasar dan perasaan cooperatief, tolong-meonolong tetapi dalam mana tentoenja masih ada tempat djoega boeat oesaha-oesaha seseorang sendiri (individueel bezit)… Dengan tjara begitoe soedah tentoe dengan sendirinja dan dengan melaloei djalan jang natuurlijk dan menoeroet evolutie, lantas dilompatilah seoatoe phase, sooatoe massa, dari kemadjoean masjarakat.”

Soetomo (dalam Tangkilisan, 2014: 139)

Kutipan di atas sengaja dibuat panjang untuk menggambarkan akumulasi pemikiran seseorang yang mengalami proses transformasi antara nilai etno-sentris dan nasion-sentris dalam identitas ke-Indonesia-annya. Faktanya dokter Soetomo (1888-1938) tidak sempat mengalami negeri yang sejak muda diperjuangkannya merdeka karena meninggal dalam umur 50 tahun. Usia muda bagi sebagian kalangan menilai. Pada zamannya, tokoh ini adalah sosok legendaris dan figur senior yang senantiasa menjadi tempat rujukan banyak aktivis pergerakan. Mempelajari riwayat hidup dan pemikirannya membuat setiap insan menemukan pembelajaran bahwa medan perjuangan politik demi kesejahteraan umum merupakan hal yang bukan mudah dan instan. Semua cita-cita membutuhkan proses dan ditempa dalam serangkaian strategi dimana setiap pilihan pasti mengandung resiko. Pada dokter Soetomo lah sebaiknya intelektual dan aktivis Indonesia di alam kemerdekaan ini belajar.


Pak Tom, Dokter Spesialis Kebangsaan
Surabaya tidak asing dengan kehidupan Soetomo. Pada masa selanjutnya, Surabaya senantiasa identik dengan dua nama Soetomo. Nama pertama ialah Soetomo yang berprofesi sebagai dokter dan memiliki sapaan akrab Pak Tom. Nama kedua ialah Soetomo yang dikenal luas dengan nama Bung Tomo (1920-1981), seorang orator sohor saat peristiwa November 1945 di Surabaya. Banyak masyarakat awam sering tertukar informasi antara Pak Tom dan Bung Tomo kala membahas sejarah Surabaya.
Soetomo yang dikenal masyhur sebagai salah seorang ‘bidan’ yang melahirkan organisasi bumiputera modern Boedi Oetomo pada tahun 1908. Peristiwa monumental tersebut menjadi tonggak sejarah kebangkitan pergerakan nasional. Periode ini menandai strategi otot yang mayoritas membuat posisi penduduk asli Bumiputera kalah dan merugi berkepanjangan diganti oleh strategi otak sebagai buah politik etis di bidang pendidikan. Latar pendidikan dan profesinya sebagai dokter yang berjiwa sosial tinggi, ia juga aktivis pendidikan bagi rakyat jelata. Seperti dokter Wahidin Soedirohoesoedo, Soetomo turut menggalang dana bagi studie fonds – lembaga penghimpun donasi bagi kemajuan pelajar bumiputera.
Ia turut mengambil langkah konstroversial dengan memilih cara kooperatif di saat sebagain besar aktivis memilih cara non kooperatif. Sekalipun jalan gerakan yang ditempuhnya kooperatif, Soetomo menolak menjadi anggota Volksraad – Dewan Rakyat bentukan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Semasa hidupnya, Soetomo banyak melakukan dialog dan diskusi dengan H. O. S. Tjokroaminoto, E. Douwes Dekker, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soetan Takdir Alisjahbana dan Ki Hadjar Dewantara. Soetomo turut menyerap ajaran Theosofi yang sedang kondang di kala itu dan ajarannya bersifat mendunia (universal). Ia menjadi obor inspirasi bagi tokoh-tokoh pergerakan nasional yang lebih muda darinya seperti Soekarno, Mohammad Hatta dan politisi kawakan M. H. Thamrin. Pemerintah Republik Indonesia secara khusus mengangkat Soetomo sebagai Pahlawan Nasional tahun 1961 (Museum Kebangkitan Nasional, 2014: 2).
Pada masa kolonial, sejarah bangsa Indonesia telah mengenal berbagai perhimpunan kaum muda terdidik dan tercerahkan di tanah jajahan yang gelisah karena kebutuhan dan minat intelektualnya tidak terpenuhi di ruang-ruang kelas formal. Ironisnya, berpuluh-puluh tahun sesudah merdeka dari penjajahan Eropa pun, berbagai masyarakat bekas jajahan itu tetap saja menghadapi kemiskinan dan pemiskinan intelektual pada taraf yang sangat mencemaskan. Pada tahun 1938 kitab kumpulan surat Kartini diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa oleh R. Sosro Soegondo, bekas guru bahasa Melayu di Yogyakarta dan atas prakarsa Imam Supardi. Kata pengantar edisi bahasa Jawa dari dokter Raden Soetomo, pemimpin Boedi Oetomo dengan judul mBoekak Pepeteng (Hera, 2013: 90).

Pemikiran Soetomo menurut Paul van der Veur (dalam Tangkilisan, 2014: 136) dapat dipetakan menjadi delapan pokok, yakni:
1.      Persatuan Indonesia paling utama.
2.      Perbedaan antara ‘Kooperasi’ (Ko) dan ‘Non-koperasi’ (Non) tidaklah penting.
3.      Baik Ekstrimisitas Komunis maupun Ketidaktoleransian golongan Islam harus ditentang.
4.      Semua manusia berusaha dan merupakan penjelmaan Tuhan yang terakhir.
5.      Jalan menuju kemerdekaan panjang dan sukar.
6.      Pendidikan Barat telah mengasingkan bangsa Indonesia dari kebudayaannya sendiri dan mencetak manusia-manusia yang asosial.
7.      Pencetakan kader, disiplin atas diri sendiri, bakti tanpa pamrih, tugas dan kewajiban.
8.      Kembali ke desa, dirikanlah Roekoen Tani.

F. X. Domini B. B. Hera Pria kelahiran 16 Agustus 1989, menyusun esai melalui konsultasi intensif dengan Drs. Peter Kasenda sebagai prasyarat bagi peserta Seri Kuliah Pemikiran “Hilang dan Dibicarakan Kembali: Sumbangsih Pemikiran yang Tenggelam Para Tokoh Pergerakan bagi Indonesia Merdeka” yang diselenggarakan Pusat Studi Budaya dan Laman Batas (Center for Culture and Frontier Studies) LPPM Univ. Brawijaya, Malang. Sesi II mengenai pemikiran Soetomo bersama Drs. Peter Kasenda, Sejarawan Univ. 17 Agustus 1945 Jakarta pada Selasa, 3 Juni 2014 pukul 09.30-11.30 WIB di Ruang Pentas Budaya, Gedung Fakultas Ilmu Budaya Lantai 7 Univ. Brawijaya, Malang. Penulis merupakan lulusan S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang, dan kini sedang menempuh S2 Ilmu Sejarah Univeritas Gajah Mada, Yogyakarta.
Francisˍxˍhera@yahoo.co.id

Daftar Rujukan
Hera, F. X. D. B. B. 2013. Pergolakan Pemikiran dan Penyelenggaraan Pendidikan oleh Aktivis Pergerakan di Hindia Belanda 1900-1942. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Museum Kebangkitan Nasional. 2013. Dokter Soetomo: Pemikiran dan Perjuangannya. Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional.

Tangkilisan, Y. 2014. Indonesia Mulia: Butir-butir Tersebar Pemikiran DR. Soetomo Mengenai Memajukan Kesejahteraan Rakyat dan Perekonomian Indonesia. Dalam Peter Kasenda dkk, Dokter Soetomo. Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional.

T-Shirt @Aksi1000_buku

Salam Literasi.


10 Januari 2015 mendatang Komunitas Kandang Buku menginjak 3th. Diusia dan tahun barunya ini ada aksi sosial selama 2015 yg ingin dilakukan, yakni @Aksi1000_buku. Aksi ini merupakan aksi penanganan traumatik pd anak-anak yang tertimpa bencana alam

.
Untuk pengumpulan dana sosial kami menjual T-shirt Limited Edition seharga Rp 70.000/pcs. Bagi kawan-kawan yang mau berpartisipasi dana bisa memesan di comment ini dengan format:
Nama_Type_Size_Warna

Atau via
Whatsapp: 0898-4111680
Pin BB: 7de7ec9a
Call: 08561807905
NB: Harga diluar biaya pengiriman T-shirt via JNE/TIKI/DHL. Salam #AsahMakaTajam

Arit dan Bulan Sabit;Pemberontakan Komunis 1926 di Banten

Iman Z.H, S.Pd (Alumni Jurusan Sejarah-UNJ, Anggota Komunitas Kandang Buku)

“Laiknya (Layaknya)Pakaian kotor, ia harus dicuci dengan sabun, begitupun dunia yang ternoda, ia musti dicuci dengan darah”
-Haji Achmad Khatib

Arit dan Bulan Sabit
Pemberontakan Komunis 1926 di Banten
Michael C. Williams
SYARIKAT INDONESIA, 2003,
175++ halaman 

Kutipan diatas terlihat mengandung makna yang mengajak kita pada situasi kecemasan. Secara umum, mudah ditemui para orator corong partai dan alat politik lainnya didunia modern mampu merangkai diksi yang lebih tajam dan memiliki arus semiotik mobilitas lebih tinggi. Menjadi agak berbeda bila frasa tersebut berasal dari seorang Haji Achmad Khatib sebagai tokoh yang dipercaya sebagai penerus kharisma dari mertuanya, seorang Kyai terkemuka dari era pemberontakan 1888, Kyai Asnawi Caringin Banten. Begitulah sampai hari ini para peziarah menyebut namanya.
Banten, sebuah wilayah khusus dalam memahami sejarah pergerakan nasional era 1920-an, perkembangan Islam modern disatu sisi yakni Sarekat Islam dan labotarium penerapan revolusi komunisme disisi lain. Semua ini berhubungan—serta merta tidak dapat dipisahkan dari benang merah yang bisa diurai sampai abad ke-19 sebagai tradisi memberontak. Hingga munculnya laporan Residen Belanda pada bulan Maret 1925 yang menyatakan Komunisme tidak akan berkembang di Banten,[1] tidak dapat menafsirkan dengan tepat peristiwa setahun kemudian sebagai “Pemberontakan Komunis Banten 1926”.
Rasa terima kasih kepada Penulis Michael C Williams dan juga separuh kecurigaan dalam merangkai fakta sejarah Pemberontakan komunis Banten 1926 yang penuh dengan banyak faktor penentu—sebagaimana sejarawan Anales—secara wajar dapat difahami bila kita melihat Williams mengantarkan tulisannya dengan mengutip Clifford Geertz bahwa perubahan dari Tradisional kepada Modern tidak sesederhana menyebutkannya. Williams mengungkapkan beberapa data lokal yang cukup lengkap, untuk membuat faktor Islam ortodoks lebih bernilai, masuk akal dan eksotis dari yang selama ini diketahui masyarakat Banten umumnya.
Bila melihat dari kacamata Nasional, dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari era 1920an—meminjam bahasa Takashi Siraishi; Zaman bergerak--adalah Islam dan pergerakan. Lalu kemudian, sintesa dari keduanya memunculkan Organisasi Pergerakan terbesar saat itu; Sarekat Islam. Buku ini menawarkan fakta lain, bahwa kondisi yang terjadi dipulau Jawa sejak abad ke-19 tidak menyentuhnya, Banten terisolasi. Para aktor pemberontakan bukan berasal dari SI, tetapi dari kekuatan-kekuatan ortodok melalui flyaover yang kemudian agitasi komunisme sudah menunggu diujung jalan.
Kegagalan SI untuk tumbuh di Banten bisa dijelaskan, pertama tokoh SI Hasan Djajadiningrat merupakan adik dari Bupati Serang R.A.A. Ahmad Djajadiningrat memiliki bias Elite feodal kaki tangan kolonial. Sebagai catatan, wilayah Banten memiliki kekuatan anti-kolonial yang paling kuat diantara pewaris kesultanan manapun dipulau Jawa—jauh di bandingkan dengan kesultanan Yogyakarta atau Surakarta. Kedua, perlu diketahui bahwa gerakan SI di Banten cenderung reformis,[2] tidak cukup mengobati kekecewaan para petani yang sudah siap untuk sebuah revolusi anti-kolonial. Ketiga, purifikasi Islam dari Islam tradisional menuju penyesuaian dengan perkembangan zaman yang dilakukan SI—dalam hal ini masuknya Muhammadiyah ke Banten—dianggap penghinaan oleh masyarakat Banten. Sebab, gerakan transformasi modernisasi Islam di Banten mendapat kutukan dari kalangan tradisional atau Muslim kolot—para pemegang pucuk radikalisasi politik eks pemberontak 1888. Potensi politik ini ternyata diambil alih oleh aktor lain yang sudah menunggu.
Dalam skala nasional, paham Komunisme dibawa Oleh Sneevlit melalui ISDV. Meskipun Hasan Djajadiningrat merupakan anggota Eksekutif ISDV, tetapi keikutsertaannya hanya sebatas “reformsi etis” minoritas di Organisasi itu. Dari kalangan Belanda, C. J. Stam merupakan tokoh komunis yang pernah membuka kelompok diskusi di Serang dan Rangkasbitung yang hanya menarik kalangan Guru, pegawai lokal kereta api, Irigasi dan beberapa priyayi muda yang terbatas. Stam bukanlah satu-satunya komunis di Banten, G.J. van Munster merupakan Guru calon pegawai Bumiputera di Serang. Tetapi, hubungannya dengan dunia luar dan agitasi komunisme tergolong kecil dan terbatas lagi.
Beberapa aktor lainnya seperti R Oesadiningrat (Pegawai Kereta Api Tanah Abang) kerabat bupati Serang, pulang kampung ke Pandeglang karena dipecat akibat peristiwa mogok dilakukan VSTV Semaun. Sebelum peritiwa tersebut, Semaun pernah menjadi pembicara pada rapat akbar bulan Juli 1922 di Labuan. Rapat akbar ini difasiltasi oleh R Oesadiningrat, meski kemudian pada pecahnya Pemberontakan PKI 1926 R Oesadiningrat menjadi mata-mata polisi Belanda. Beberapa gerakan Semaun yang dikenal dengan Infiltrasi SI menyebabkan perpecahan pada tahun 1923 itu, berakibat pada upaya dibangunnya Basis Sarekat Rakyat di Banten.
Beberapa tokoh PKI lokal lainnya dengan kategori Ter-PKI kan diluar Banten seperti Tubagus Alipan dan Achmad Bassaif. Suatu pengecualian adalah Puradisastra, seorang sunda yang bergabung dengan PKI tahun 1923 aktif di Jawa Barat dan Bengkulu menikah dengan perempuan asal Menes. Ketiga aktor tersebut saling terkait dengan kemampuan politiknya masing-masing. Puradisasrta memiliki jaringan yang kuat, dekat dengan Musso dan Alimin sejak Sarekat Buruh di Batavia. Sedangkan Achmad Bassaif tergolong keturunan Arab yang fasih, senjata Partai yang ampuh dalam membuat ajaran-ajaran Islam lazim dalam ideologi dan perjuangan PKI. Tb Alipan yang ter-PKI kan di Temanggung memiliki jaringan dengan para pekerja percetakan. Hingga muncul nama-nama PKI dari pekerja percetakan seperti Abdu Rahcmat, Ishak dan Atmodiharjo.
Agitasi PKI bukan tanpa kegagalan. Dibangunnya Sarekat rakyat di Banten pernah mengalami berbagai kegagalan. Pada bulan Oktober 1923, Musso mengadakan Orasi Politik di Kadomas Pandeglang tanggal 12 dan tanggal 13, pesertanya hanya sembilan Orang. Kegagalan-kegagalan lain dapat dijelaskan dalam jaringan yang lebih luas. Beberapa diantaranya antisipasi kolonial yang sudah membuang para tokoh kunci seperti Tan Malaka, Bergsma, dan Semaun ditahun yang sama. Hal ini diperparah dengan Penolakan Tan Malaka atas keputusan Prambanan 25 Desember 1925—keputusan untuk memberontak. Ketidaksamaan sikap tersebut membuat pemberontakan yang terjadi—sudah diprediksi tidak akan berhasil— malah membuat munculnya peristiwa mistik dan mencemaskan.
Sebuah fakta terbalik muncul. Sebuah laporan pemerintah tahun 1924 bahwa anggota PKI dikaresidenan Banten hanya dua orang. Kemudian hanya dalam waktu 12 bulan jumlah anggota ribuan dan semakin bertambah tahun 1926.[3] Beberapa peningkatan awal komunisme, pertama dimulai dengan Petisi ditandatangani 200 orang pada bulan agustus 1925 yang diprakarsai Tb Alipan dan Tb Hilman dengan titel feodal “Tubagus”  untuk menjalin kontak dengan Keturunan Kesultanan Banten. Isinya menyarankan Hak-hak kebangsawanan dalam bentuk uang pensiun untuk para keturunan kesultanan.
Kedua, dibuatnya Rukun Asli tanggal 22 Agustus 1925. Sebuah perkumpulan rahasia, rapat asosiasi ini pertama dilakukan di Kramatwatu, bukan kebetulan karena desa ini termasuk salah satu desa yang terlibat pemberontakan 1888 dan anak-anak pemberontakan masih banyak tinggal disana.[4] Polisi kolonial tidak kalah hebatnya dalam menekan, membubarkan hingga membuat intimidasi halus dan kasar dalam membendung pertumbuhan masa PKI di Banten. Kemudian muncul DO atau Ditactorial Organisatie sebagai pematangan hasil keputusan Prambanan.
Ketiga, menjaring berbagai elemen masyarakat lainnya seperti Jawara dan menjadikan lurah-lurah desa sebagai penghubung meluasnya PKI serta beberapa iuran-iuran yang terkumpul lebih besar dari dugaan sementara. Meski diketahui kemudian, secara berkala polisi kolonial menangkapi dan berhasil menemukan timbunan-timbunan senjata dan uang dalam jumlah besar ditimbun dirumah-rumah tokoh PKI yang sudah berhasil ditangkap secara berkala. Di Desa Dalung, Haji Mohamad Arif anggota PKI ditemukan 6 pucuk pistol revolver dibalik tembok rumahnya, di Ciruas ditemukan 800 golok, Pabuaran-Pancur-Gunungsari tersita pistol jenis Mauser, Beaumot dan tumpukan kain putih serta juga ditemukan 10.000 Gulden dana pemberontakan.
Ketika Pemberontakan sudah didepan mata, para para tokoh kunci sudah dibalik teralis, kecuali mereka para haji yang memiliki kharisma dimata masyarakat Banten. Hal ini menyebabkan gerakan inisiatif dari para perencana pemberontakan yang tersisa untuk meminta ketegasan dari senior atau jaringan atas PKI yang berada di Batavia, Bandung maupun Singapura akhirnya menyebabkan aksi ini lebih bersifat lokal. Selain itu, isu, memegang peranan penting—meskipun sumber isu itupun lebih menarik.
Ketegangan dimulai dengan penyataan Kyai Asnawi agar para Jamaah menunda berlayar ke Mekah untuk berhaji ditafsirkan sebagai sinyalemen bahwa sebuah peristiwa besar akan terjadi—tafsir PKI, ini adalah bentuk dukungan. Kemudian puluhan desa di berbagai daerah Banten mengadakan puasa masal dan membeli kain putih secara besar-besaran. Ditambah, di daerah Petir terbunuhnya seorang lintah darat, tidak lama kemudian di Desa Kaduhejo terjadi aksi blokade. Setiap aksi kriminal yang terjadi kemudian bisa diakui sebagai peran Jawara dalam pemberontakan ini, seperti beberapa ancaman bagi warga yang tidak ikut pemberontakan akan ditandai dengan “dirobohkannya” pohon didepan rumahnya serta intimidasi lainnya.
Banyaknya kalangan petani yang dipenjara memiliki penjelasan tersendiri. Pemogokan-pemogokan di Semarang dapat diidentifikasi sebagai gerakan Buruh kereta api yang dimobilisasi oleh Semaun, tetapi untuk Banten sampai terjadinya pemberontakan, kelas pekerja tidaklah dominan di wilayah tersebut. Komunisme masuk dan merangsang gerakan pemberontakan di Banten melalui tafsir-tafsir ulama yang lebih dapat difahami kelas petani Banten. Banyak diantara pelaku pemberontakan bahkan belum pernah keluar desanya. Mobilisasi serentak ini dapat terwakili dengan beberapa draf wawancara polisi belanda terhadap para petani tersebut denga kalimat tetangga saya memiliki kartu komunis saya pun ikut, tetangga saya semua ikut memberontak saya juga ikut, katanya setelah pemberontakan terjadi tidak ada pajak perkepala dan beberapa pengakuan lainnya. Bahwa hal ini menjelaskan, petani merupakan kelas yang paling tertekan dalam situasi kolonial.
Malam sebelum pemberontakan terjadi, tokoh PKI Serang seperti Soleiman, Atmodiharjo, Alirachman, Michnar ditangkap. Sudah menunggu para kolega meraka Djarkasih, Haji Ayip Achmad “Sang Jago Serang”, Arman, dan Haji Mohamad Noer. Menyusul kemudian Afif, H. Tb. Emed, lalu tokoh sentralnya Haji Achmad Khatib dan Kyai Moekri sebuah pengecualian karena berhasil lolos dari pengejaran.
Pemberontakan ini jelas gagal sejak awal, bahkan menyentuh tujuannya pun tidak. Tetapi, dengan menyebutkan beberapa penangkapan-penangkapan, penggrebekan rapat-rapat serta sumber senjata yang disita; betapa pemberontakan sudah tidak dapat dilakukan belum dapat menafsirkan bagaimana mencekamnya Banten pada 1926. Sinyalemen bahwa setelah pemberontakan 1888, kapanpun akan terjadi pemberontakan. Beberapa faktor diantaranya adalah beberapa tokoh pemberontak 1926 berasal dari Desa eks pemberontakan 1888 dan tokoh tersebut memiliki garis darah yang sama. Kepuasan terakulumasinya sifat Ortodoks Islam Banten dan kekuatan Isolatif wilayah tersebut baru kemudian terjawab dengan ikutnya Banten dalam revolusi 1945.





[1] Hlm.4
[2] Hlm 10
[3] Hlm 17
[4] Hlm.32

Monday, 1 December 2014

Literasi Indonesia Harta Karun Intelektual Bangsa

Press realese

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Pramoedya Ananta Toer

  Kutipan dari Pramoedya diatas kiranya menjadi suatu peringatan yang representatif. Bahwasanya kita harus menjaga budaya menulis sebagai suatu bentuk kekayaan literasi Indonesia. Terlebih Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan budaya dan sejarahnya.
   Budaya tersebut merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang menghasilkan sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Kebudayaan sebagai semua, seperangkat sistem gagasan, tindakan, hasil atau benda-benda manusia yang diperoleh dengan cara belajar dalam rangka hidup bermasyarakat dan dimiliki oleh manusia, dirasa perlu untuk diabadikan dalam suatu bentuk literasi untuk membantu melangsungkan kebutuhan intelektual dalam bermasyarakat hari ini.
   Era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan media informasi justru kian mengikis kebudayaan-kebudayaan tersebut pada generasi muda. Tak sedikit pula masyarakat yang khawatir akan dampak dari masuknya budaya barat dapat mengubah gaya hidup manusia Indonesia kearah negatif, antara lain kekerasan, penetrasi budaya asing, konsumerisme. Dimana akan melemahkan ketahanan nasional dalam aspek kebudayaan dan pendidikan. Sehingga timbul hilangnya citra bangsa yang intelektual akan budaya bangsanya sendiri.
    Globalisasi ini telah mengalienasikan generasi bangsa dari budayanya sendiri, termasuk pada kehilangan identitas sebagai suatu bangsa Indonesia yang besar. Kurangnya pemahaman generasi muda betapa pentingnya literasi, menggerakan beberapa komunitas penggiat literasi yang berada di Jakarta untuk mengajak dalam suatu kegiatan bertajuk ‘Pesta Literasi Akhir Tahun.’ Kegiatan ini sebagai bentuk penyadaran sejarah, budaya, serta kolektifitas sebagai sebuah bangsa yang terkandung dalam kekayaan literasi bangsa.
       Pesta literasi akhir tahun 2014 diadakan selama dua hari 9-10 Desember 2014 di Universitas Negeri Jakarta. Para penyelenggara yang menaruh lebih terhadap literasi antara lain adalah Perpustakaan Komunitas Kandang Buku, Gerakan Aksara, Stomata, ingin mengkampanyekan “Sadar Literasi” khusunya pada generasi muda untuk lebih aktif membaca dan menulis. Hal ini sekiranya sangat erat dengan visi pemerintah yang saat ini ingin mencetak generasi emas Indonesia dengan menumbuh kembangkan karakter nasionalisme pada generasi bangsa melalui pendidikan, sejarah, budaya, dan pariwisata Indonesia.
    Sebuah gagasan literasi Indonesia sebagai harta karun intelektual bangsa yang belum diperhatikan secara lebih oleh pemerintah sebetulnya dapat menjadi sarana perbaikan karakter generasi bangsa. Generasi yang sadar akan sumber-sumber bacaan (literasi). Untuk terciptanya suatu capaian tersebut tentu membutuhkan sinergi antara institusi dalam hal ini pemerintah dengan komunitas yang menaruh perhatian lebih.

Salam #AsahMakaTajam
(Panitia #PLAT2014)